<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020</id><updated>2011-04-21T17:10:39.371-07:00</updated><category term='500 Ayat'/><category term='FB Team JR'/><category term='Duka Emosi Dan Jiwa'/><category term='FAKTA'/><category term='al Khattab'/><category term='as Sodiq'/><category term='FIKH'/><category term='USHULUDDIN'/><category term='Kahwin Mut`ah'/><title type='text'>OPERA PERJALANAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-2384001620560922967</id><published>2009-05-20T15:54:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T15:55:20.080-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FB Team JR'/><title type='text'>Sahabat Rasulullah yang Burok.-part (2)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Para sahabat membantah perintah Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita lanjutkan laporan Umar bin Khathab: “Setelah Rasulullah saw menyelesaikan penulisan surat perjanjian itu, beliau berkata kepada para sahabatnya:”bangunlah, sembelihlah qurban dan bercukurlah. Demi Allah tidak seorang pun di antara para sahabat yang bangun sampai ia mengatakannya tiga kali. Ketika tidak seorang pun berdiri, beliau masuk ke tempat Ummu Salamah. Ia mengadu kepadanya tentang apa yang ia hadapi dari orang banyak. Ummu Salamah berkata:’Ya Nabiyallah, apakah engkau ingin mereka melakukannya? Beliau berkata;”benar.” Ummu Salamah berkata:”Keluarlah dan jangan berbicara dengan seorang pun di antara mereka sampai engkau menyembelih hewanmu dan memanggil tukang cukurmu untuk memotong rambutmu.” Lalu Nabi saw berdiri keluar dan tidak berbicara pada seorang pun sepatah kata pun sampai ia melakukan penyembelihan dan memotong rambut. Ketika mereka melihat Nabi berbuat seperti itu, mulailah mereka bangun dan menyembelih serta satu sama lain saling mencukur rambut sehingga hampir-hampir mereka saling membunuh” (Al-Durr al-Mantsur &amp;amp;;53; Ibn Katsir 4:199).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ridha kepada mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil berikutnya yang dijadikan dalil tentang ‘Adalat al-Shahabah adalah potongan ayat&lt;br /&gt;رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ . Potongan ayat ini disebut empat kali dalam al-Quran. Tiga kali disebut untuk menunjukkan karakteristik umum orang-orang yang diridhai Allah swt; tidak khusus berkaitan dengan sahabat: Al-Maidah 5:119; Al-Mujadilah 58:22; Al-Bayyinah 98:7-8. Mungkin yang dimaksud al-Syaikh, yang berkaitan dengan sahabat adalah Al-Tawbah 9:100. Hanya sekedar contoh, untuk ayat-ayat yang khithabnya umum kita hanya membahas Al-Bayyinah 7-8 saja. Setelah itu, kita memperhatikan secara khusus Al-Tawbah 9:100.&lt;br /&gt;Al-Bayyinah 7-8&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ&lt;br /&gt;جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mufasir tidak pernah menisbahkan “Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepadaNya khusus untuk sahabat. “Mereka” dinisbahkan kepada semua orang yang beriman dan beramal saleh; kepada khayrul bariyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Katsir menulis, “Telah berdalil dengan ayat ini Abu Hurairah dan sebagian ulama tentang keutamaan kaum mukmin di atas para malaikat, berdasarkan firman Allah –ulaika hum khayrul bariyyah” (Ibn Katsir 4:538). Ibn Katsir kemudian menurunkan hadis-hadis yang menjelaskan sifat-sifat mukmin yang termasuk khayrul bariyyah. Misalnya, “Khayrul bariyyah adalah orang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Tetap tegak di atasnya apa pun yang terjadi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaluddin al-Suyuthi, setelah mengutip hadis Abu Hurairah tentang mukmin yang beramal saleh –yang diridhai Allah- lebih mulia dari malaikat, ia meriwayatkan hadis dari Aisyah ketika Rasulullah menjawab pertanyaan tentang manusia yang paling mulia: “Ya Aisyah, tidakkah kamu membaca ayat:&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Al-Suyuthi menurunkan hadis-hadis berikut: Ibn Asakir mengeluarkan dari Jabir bin Abdillah. Ia berkata: Kami sedang bersama Nabi saw, lalu datanglah Ali. Nabi saw berkata: Demi yang diriku ada di tangannya. Sesungguhnya ini dan Syi’ahnya sungguh orang-orang yang berbahagia pada hari kiamat. Dan turunlah ayat&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, para sahabat Nabi saw, bila Ali datang, mereka berkata: Telah datang khayrul bariyyah.&lt;br /&gt;Ibn Adi dan Ibn Asakir mengeluarkan dari Ibn Abbas. Ia berkata: Ketika turun ayat&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda kepada Ali, “Dia itu adalah kamu dan Syi’ahmu, pada hari kiamat, ridha kepada Allah dan diridhai Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Mardawayh mengeluarkan dari Ali. Ia berkata: Rasulullh saw berkata kepadaku: Tidakkah kamu dengar firman Allah&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة&lt;br /&gt;Itulah engkau dan Syi’ahmu. Tempat perjanjianku dan perjanjian kalian adalah al-Hawdh, ketika umat-umat datang untuk dihisab, kalian dipanggil ghurran muhjalin (Al-Durr al-Mantsur 8:589).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Tawbah 9:100&lt;br /&gt;وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Syaikh dan Ibn Asakir mengeluarkan dari Abi Shakhr Hamid bin Ziyad. Ia berkata: Aku bertanya pada Muhammad bin Ka’ab al-Qurdhi ra: Beritakan kepadaku tentang sahabat Rasulullah saw. Yang aku maksud adalah al-fitan (peristiwa kerusuhan). Ia menjawab: Sesungguhnya Allah telah mengampuni semua shahabat Nabi saw dan memastikan kepada mereka surga, baik yang berbuat baik maupun yang berbuat buruk . Aku bertanya kepadanya: dimana dalam Kitabullah, Allah swt memastikan kepada mereka surga?. Ia menjawab tidak kah kamu baca, وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ Allah swt mewajibkan surga dan keridhaannya kepada semua shahabat Nabi saw tetapi memasukkan tabi’in ke surga dengan syarat-syarat. Aku bertanya apa syarat-syaratnya?. Ia menjawab Allah swt mensyaratkan mengikuti shahabat dengan berbuat baik. Yakni, mengikuti shahabat dengan amal-amal yang baik dan tidak mengikuti di luar itu (Tafsir al_Durr al-Mantsur, 3:486).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan di atas, sebagai penafsiran atas ayat ini, Ahlussunnah berpendapat bahwa semua shahabat Nabi saw masuk surga, sekalipun mereka berbuat buruk. Bila kita perhatikan ayat-ayat sebelumnya, kita akan membaca kecaman Allah swt kepada para shahabat baik Muhajirrin maupun Anshar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini terletak dalam rangkaian ayat-ayat dalam surat al-Taubah. Abu ‘Ubaid, ibn al-Mundzir, Abu al-Syeikh, Ibn Mardawaih dari Said bin Jubair ra : aku bertanya kepada Ibn Abbas tentang surat al-Taubah: Ia berkata Taubat?. Bukan ini surat al-Fadhihah, yang mempermalukan. Ketikan ayat ini terus menerus turun, kami mengira bahwa tidak tersisa dari kami seorangpun kecuali disebutkan(kecaman) di dalamnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu al-Syeikh dari Ikrimah. Ia berkata: Umar berkata: sebelum selesai turun surat al-Taubah, kami mengira bahwa tidak akan tersisa seorangpun di antara kami yang tidak dikenai oleh ayat yang turun. Karena itulah surat ini dulu diberi nama al-Fadhihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita perhatikan paling tidak 10 ayat sebelum ayat yang kita bicarakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Tawbah 90 menceritakan al-Mu’adzdzirun, yakni , shahabat yang mengajukan alasan yang tidak benar supaya diizinkan tidak berperang. Ketika Ibn Abbas membaca ayat ini, ia berkata : Allah swt melaknat al-Mu’adzdzirun.&lt;br /&gt;2. Al-Tawbah 91 menceritakan ampunan Allah swt kepada kaum dhuafa, orang sakit , atau orang yang tidak punya nafkah, asalkan ia setia kepada Allah dan RasulNya.&lt;br /&gt;3. Al-Tawbah 92 memberikan dispensasi kepada sahabat yang tidak mempunyai kendaraan untuk mengangkut mereka dan berlinang-linang airmata mereka. Para mufassir mempunyai daftar sahabat dalam kelompok ini.&lt;br /&gt;4. Al-Tawbah 93-96 mengecam sahabat-sahabat yang tidak punya alasan untuk tidak ikut perang. Nabi saw diperintahkan Allah untuk tidak mempercayai alasan mereka, karena Allah sudah mengungkap kebohongan mereka. Allah berfirman: “Berpalinglah kalian dari mereka. Mereka itu kotoran. Tempat mereka itu Jahannam, balasan atas apa yang mereka lakukan. Mereka bersumpah kepadamu supaya kamu ridha kepada mereka. Jika kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang fasik.” (Al-Tawbah 95-96)&lt;br /&gt;5. Al-Tawbah 97 menegaskan bahwa الأعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا وَأَجْدَرُ أَلا يَعْلَمُوا حُدُودَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.&lt;br /&gt;6. Al-Tawbah 98-99 menjelaskan sifat-sifat mereka: menganggap infak sebagai denda dan berharap agar Rasulullah jatuh dalam kebinasaan. Tapi Allah juga menjelaskan bahwa di antara mereka ada juga yang berinfak untuk mendekatkan diri kepada Allah dan supaya mendapat doa Rasulullah saw.&lt;br /&gt;7. Segera setelah ini, dalam Al-Tawbah Allah menjelaskan sahabat-sahabat yang diridhainya dan mereka pun ridha kepada Allah “dari sebahagian Muhajir dan Anshar”, مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-2384001620560922967?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/2384001620560922967/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=2384001620560922967' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/2384001620560922967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/2384001620560922967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2009/05/sahabat-rasulullah-yang-burok-part-2.html' title='Sahabat Rasulullah yang Burok.-part (2)'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-6990788864100307394</id><published>2009-05-20T15:43:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T15:53:59.510-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FB Team JR'/><title type='text'>Sahabat Rasulullah yang Burok.-part (1)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ahli Badr dan Uhud tidak membayar zakat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ&lt;br /&gt;فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ&lt;br /&gt;فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ&lt;br /&gt;Al-Tawbah 75-77&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mufasirin sepakat ayat ini turun berkaitan dengan Tsa’labah bin Khathib. Ia adalah sahabat yang termasuk ikut perang Badar dan Uhud, tetapi kemudian ia berkhianat. Kisah ini terkenal. Ia kemudian berkhianat kepada Nabi saw dan tidak membayar zakat. Baik Abu Bakar maupun Umar tidak mau menerima zakatnya. Ibn Abd al-Barr berkata, “Ia menyaksikan Badr dan Uhud. Ia tidak membayar shadaqah seperti dikatakan oleh Qatadah dan Sa’id bin Jubayr. Tentang Tsa’labah turun ayat: ….. وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ&lt;br /&gt;(Al-Isti’ab 1:210).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sahabat menyakiti Rasulullah saw&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا&lt;br /&gt;Al-Qur'an, 33:53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baihaqi dalam sunannya dari Ibn Abbas: Salah seorang sahabat Nabi saw berkata: Apakah Muhammad (saw) menghalangi kami untuk menikahi saudara-saudara sepupu kami, sementara ia boleh menikahi mantan istri-istri kami sepeninggal kami. Jika sesuatu terjadi kepadanya, kami akan kawini istri-istrinya sepeninggalnya. Makan turunlah ayat ini. Perkataan ini menyakiti hati Nabi saw (al-Durr al-Mantsur 5:404)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat mengeraskan suara di atas suara Rasulullah saw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ&lt;br /&gt;Al-Jumu’ah 49:2-3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abi Mulaikah: Ia berkata: hampir-hampir kedua orang baik celaka; yakni, Abu Bakar dan Umar. Mereka mengeraskan suaranya di hadapan Nabi saw ketika datanag rombongan Bani Tamim. Yang satu menunjuk Al-Aqra’ bin Habis; yang lain menunjuk lelaki yang lain –Ia berkata: Nafi’, aku tidak hapal namanya- Berkatalah Abu Bakar kepada Umar, “kamu hanya ingin membantahku. Umar berkata: Aku tidak ingin membantahmu. Maka keraslah suara keduanya di hadapan Rasulullah saw. Allah swt menurunkan ayat ini. Kata Ibn Zubayr: Tidak pernah lagi Umar memperdengarkan suaranya kepada Rasulullh saw setelah turun ayat ini sampai ia memperoleh pengertian. Ia tidak menyebut bapaknya, yakni Abu Bakar” (Shahih al-Bukhari 6:171; Sunan al-Turmudzi 5:387; al-Durr al-Mantsur 7:546; Sunan al-Nasai 8:226 dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sahabat lari dari salat Jumaat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;062.011 وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baihaqi mengeluarkan dalam Syi’b al-Iman dari Muqatil bin Hayyan. Ia berkata: Nabi saw berkhutbah pada hari Jumat. Rasulullah saw sedang berdiri. Dihyah al-Kalbi seorang pedagang. Waktu itu ia belum Islam. bila ia datang ke bersama dagangannya ke Madinah, orang-orang keluar melihat-lihat dan membeli dagangannya. Pada suatu hari ia dating bertepatan dengan hari jumat. Orang-orang sedang berkumpul bersama Rasulullah saw di mesjid. Rasulullah saw sedang berdiri berkhotbah. Rombongan Dihyah masuk ke Madinah dengan membawa tetabuhan dan hiburan. Itulah yang disebut Allah swt sebagai “Lahaw”. Orang-orang yang di mesjid mendengar bahwa Dihyah sudah membuka pasar di Ahjar al-Zaid, yakni satu tempat di pasar Madinah. Mereka mendengar gemuruh suara kebanyakan orang keluar menemui Dihya untuk memperhatikan dagangannya dan tetabuhan hiburannya. Mereka meninggalkan Rasulullah saw berdiri dengan tidak banyak orang bersamanya. Demi Allah, sampai kepadaku berita bahwa mereka melakukannya sampai tiga kali. Sampai juga kepada kami bahwa yang tinggal bersama Rasulullah saw sedikit sekali. Pada saat itu Nabi saw bersabda:” sekiranya tidak ada mereka ini, yakni mereka yang tinggal di mesjid bersama Nabi saw, pasti akan turun kepada mereka batu dari langit. Lalu turunlah ayat 62:21:&lt;br /&gt;وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sahabat melarikan diri dari medan pertempuran&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ&lt;br /&gt;Ali Imran 144&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Thabari meriwayatkan dari Salamah bin Ishaq… bahwa ayat ini turun kepada Rasulullah saw tentang sahabat yang melarikan diri pada perang Uhud. Ia berkata: “Yakni, apakah jika Rasulullah saw mati atau Nabimu terbunuh kamu kembali dari agamamu menjadi kafir, sebagaimana kalian pernah meninggalkan jihad melawan musuhmu dan meninggalkan Kitab Allah serta agama yang ditinggalkan Nabimu untuk kalian dan berada di tengah-tengah kalian. Telah jelas bagi kalian di antara yang datang kepada kalian bahwa ia pasti mati dan meninggalkan kalian. Siapa yang berpaling, artinya siapa yang murtad dari agamanya” (Tafsir al-Thabari 4:74).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah larinya para sahabat ini masyhur. Selain al-Thabari, banyak kitab tafsir dan tarikh melaporkan peristiwa ini . Secara singkat, pada perang Uhud pasukan Islam mengalami kekalahan. Sebahagian sahabat ditugaskan Nabi saw sebagai pemanah untuk menjaga celah di antara dua bukit. Pada awal pertempuran, kaum muslim menang. Ketika pasukan kaum muslimin menang, mereka berebutan mengambil barang pampasan perang. Pasukan pemanah melupakan perintah Nabi saw karena tertarik untuk memperoleh bagian. Mereka meninggalkan tempat yang strategis. Pasukan musuh memasuki celah yang tidak lagi dikawal sahabat dan akhirnya mengalahkan pasukan muslim. Di tengah-tengah kepanikan, orang-orang munafik menyebarkan berita bahwa Nabi saw terbunuh. Mereka menimbulkan keraguan pada para sahabat: Kalau ia nabi, mengapa ia terbunuh. Sebahagian sahabat melanjutkan pertempuran dengan berkata: Jika Muhammad sudah terbunuh, maka Tuhan Pelindung Muhammad tidak dibunuh. Berperanglah sebagaimana Muhammad saw berperang. Sebahagian lagi ada yang berkata: Mari kita berlindung kepada Abu Sufyan. Sebahagian besar melarikan diri. Berkenaan dengan peristiwa ini turun Ali Imran 152-153:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ&lt;br /&gt;مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذْ تُصْعِدُونَ وَلا تَلْوُونَ عَلَى أَحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِكَيْلا تَحْزَنُوا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا مَا أَصَابَكُمْ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berbeda pendapat orang tentang siapa saja yang bertahan bersama Nabi saw dan siapa saja yang melarikan diri. Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa sepertiga sahabat menderita luka-luka. Sepertiganya lagi melarikan diri. Sepertiganya lagi tetap bersama Nabi. Mereka juga berbeda pendapat tentang orangt-orang yang melarikan diri. Ada yang berkata:Ada yang masuk ke Madinah dan memberitakan bahwa Nabi saw telah terbunuh. Dia Sa’ad bin Utsman. Ada di antara mereka yang menemui istri-istri mereka, dan dihardiknya: Kamu lari dari Rasulullah saw? Istri-istri mereka melemparkan tanah ke muka-muka mereka sambil berkata: Pergilah kamu dengan cumbuan kamu!&lt;br /&gt;Ada yang meriwayatkan bahwa kaum muslim tidak lari melewati bukit. Al-Quffal berkata: Dari sejumlah riwayat kita dapat menyimpulkan bahwa sebagian di antara mereka ada yang melarikan diri dan menjauh. Sebagian ada yang masuk ke Madinah. Sebagaian ada yang pergi ke daerah-daerah sekitar. Sebagian besar menuruni bukit dan berkumpul di sana. Di antara yang melarikan diri adalah Umar, tetapi ia tidak termasuk yang pertama melarikan diri dan tidak jauh. Ia tinggal sekitar bukit sampai Nabi saw naik. Di antara mereka juga adalah Utsman. Ia melarikan diri bersama dua orang Anshar- Sa’ad dan ‘Uqbah. Mereka melarikan diri sampai mencapai tempat yang sangat jauh dan baru kembali setelah tiga hari. Nabi saw berkata kepada mereka: Kalian sudah pergi sejauh-jauhnya. Fathimah berkata kepada Ali: Apa yang dilakukan Utsman? Ali mengecam Utsman. Nabi saw bersabda: Hai Ali, aku ingin sekali agar para suami dari istri-istri yang bersaudara untuk saling mencintai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sahabat yang bertahan dengan Nabi saw ada empat belas orang : tujuh orang muhajir dan tujuh orang Anshar. Dari kaum muhajirin: Abu Bakar, Ali, Abdurrahman bin ‘Awf, Sa’d bin Abi Waqqash, Thalhah bin ‘Ubaydullah. Abu ‘Ubaidah bin al-Jarah, Zubayr bin ‘Awwam. Dari kaum Anshar: Abu Dujanah, Al-Harts bin al-Shamah, Khabab bin Al-Mundzir, ‘Ashim bin Tsabit, Sahl bin Hunaif. Tidak seorang pun di antara mereka yang terbunuh. Ibn ‘Uyaynah meriwayatkan bahwa yang terluka bersama Rasulullah saw itu ada tiga puluh orang . Semuanya mendatangi Nabi saw dan berdesakan di hadapan Nabi saw: Biarlah diriku menjadi tebusan bagi dirimu; biarlah tubuhku menjadi tebusan bagi tubuhmu. Salam bagimu, bukan salam perpisahan! (Al-Fakhr al-Razi 9:42).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-6990788864100307394?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/6990788864100307394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=6990788864100307394' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/6990788864100307394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/6990788864100307394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2009/05/sahabat-rasulullah-yang-burok.html' title='Sahabat Rasulullah yang Burok.-part (1)'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-962396011224076637</id><published>2009-05-19T12:57:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T13:11:15.122-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='as Sodiq'/><title type='text'>Siapa Amirul Mukiminin?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/ShMQA0aVSuI/AAAAAAAAAOs/-p4SUsNrrl8/s1600-h/tuan-guru.png"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 109px; DISPLAY: block; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337627589619305186" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/ShMQA0aVSuI/AAAAAAAAAOs/-p4SUsNrrl8/s400/tuan-guru.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tuntutan Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib A.S terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hakikat yang tidak boleh dinafikan kerana ia dicatat di dalam buku-buku muktabar Ahl al-Sunnah dan Syi`ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan tersebut lebih terserlah di dalam bentuk munasyadah (soal jawab) di mana beliau mengemukakan beberapa soalan kepada Khalifah Abu Bakr berdasarkan kepada hadis-hadis Rasulullah s.`a.w mengenai hak dan kelebihan dirinya, di mana orang yang ditanya harus menjawab soalan-soalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Amir al-Mukminin `Ali A.S, tuntutan beliau terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hak yang wajib dituntut. Kerana Rasulullah s.`a.w telah melantik beliau dan sebelas anak cucunya daripada Fatimah A.S sebagai Imam/Khalifah. Bagi `Ali, perlantikan beliau adalah daripada Allah S.W.T.melalui rasulNya. Justeru itu orang ramai harus mentaatinya dansebelas para imam selepas beliau satu persatu. Apatah lagi khutbah/hadis Rasulullah s.`a.w di Ghadir Khum pada 18 Dhu l-Hijjah tahun 10 hijrah menjadi asas yang penting di dalam tuntutan beliau terhadap jawatan khalifah secara langsung selepasRasulullah s.`a.w.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan Teks Diolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini akan diperturunkan diolog Amir al-Mukminin `Ali A.S yang dikemukakan kepada Khalifah Abu Bakr mengenai Imamah/Khilafah. Di dalam pembentangan ini, penulis mengemukakan terjemahan teks tersebut menurut catatan al-`Allamah al-Tabarsi di dalam al-Ihtijaj ,. Kemudian penulis membuat rujukan kepada buku-buku Ahl al-Sunnah kita sebagai pengukuhan kepada kesahihan hadis-hadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada Ja`far, Imam Ja`far al-Sadiq adalah imam keenam Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w.Ja`far b. Muhammad, Imam Muhammad al-Baqir b. `Ali Zain al-Abidin b. Husain b.Ali adalah imam kelima Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w.daripada bapanya, daripada datuknya A.S. Beliau berkata: Apabila selesai urusan Abu Bakr dan bai`ah orang ramai kepadanya serta perbuatan mereka terhadap `Ali, Abu Bakr masih mengharapkan bai`ah daripada `Ali, tetapi beliu A.S telah menunjukkan sikap negatif terhadapnya. Abu Bakr menganggapnya sebagai serius lalu beliau ingin berjumpa dengannya dan meminta maaf daripadanya di atas bai`ah orang ramai kepadanya sedangkangkan dia (Abu Bakr) sendiri tidak begitu berhasrat untuk memegang jawatan khalifah kerana kezuhudannya.Dia mengadakan pertemuan empat mata dengan `Ali A.S.&lt;br /&gt;Dia berkata: Wahai Abu l-Hasan! Demi Allah perkara ini bukanlah aku benar-benar mencintainya kerana aku tidak mempunyai keyakinan kepada diriku sendiri terhadap keperluan umat ini. Aku tidak mempunyai harta yang banyak dan keluarga yang ramai. Oleh itu kenapa anda menyembunyikan kepadaku apa yang aku tidak berhak daripada anda. Anda melahirkan kebencian terhadapku .&lt;br /&gt;Amir al-Mukminin berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah yang mendorong anda untuk memegang jawatan khalifah sekiranya anda benar-benar tidak menghendakinya dan anda pula kurang yakin kepada diri anda sendiri untuk mengendalikannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr berkata: Sebuah hadis yang aku mendengarnya daripada Rasulullah s.`a.w bermaksud "Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan". Apabila aku melihat ijmak mereka terhadapku, maka akupun mengikuti sabda Nabi s.`a.w tersebut .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku tidak terfikir ijmak mereka menyalahi petunjuk. Lantaran itu aku memberi jawapan yang positif. Dan sekiranya aku mengetahui mahupun seorang yang tidak bersetuju di atas perlantikanku nescaya aku menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. `Ali berkata: Adapun sabda Nabi s.`a.w yang anda menyebutkannya "Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan", adakah aku daripada umat ataupun tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Tentu sekali anda daripada umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. `Ali berkata: Adakah golongan menentang anda yang terdiri daripada Salman, `Ammar, Abu Dhar, al-Miqdad, Ibn `Ubbad dan orang-orang Ansar yang lain bersamanya termasuk di dalam umat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Semuanya termasuk di dalam umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. `Ali berkata: Bagaimana anda berhujah dengan hadis tersebut sedangkan orang seperti mereka telah membelakangi anda? Sedangkan umat tidak mencela mereka dan persahabatan mereka dengan Rasulullah adalah baik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Aku tidak mengetahui penentangan mereka melainkan selepas berlaku pemilihan khalifah. Aku khuatir sekiranya aku meninggalkan "perkara" tersebut orang ramai akan menjadi murtad dari agama mereka. Lantaran itu perlakuan mereka terhadapku - sekiranya aku menyahuti seruan mereka - lebih senang bagiku mememberi pertolongan di dalam agama dan mengekalkannya dari permusuhan di kalangan mereka. Justeru itu mereka kembali menjadi kafir. Aku menyedari bahawa anda bukanlah orang yang dapat mengekalkan keadaan mereka dan agama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. `Ali berkata: Ya! Tetapi beritahukan kepadaku tentang orang yang berhak jawatan khalifah dan dengan apakah dia berhak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Dengan nasihat, kesetiaan, perlakuan yang baik, melahirkan keadilan, alim dengan kitab dan sunnah, percakapan yang tinggi, zuhud di dalam soal keduniaan, tidak terlalu cintakan dunia, menyelamatkan orang yang tertindas dari ditindas,sama ada jauh dan dekat. Kemudian dia (Abu Bakr) diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. `Ali berkata: Orang yang terawal memeluk Islam dan kerabat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah wahai Abu Bakr, adakah sifat-sifat tersebut terdapat pada diri anda atau pada diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Malah pada diri anda wahai Abu l-Hassan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah menyahuti dakwah Rasulullah (s.`a.w) dari kaum lelaki atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;9. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku yang mengisytiharkan Surah al-Bara'ah di musim Haji akbar di hadapan kaum muslimin atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, aku telah mempertahankan Rasulullah s.`a.w. dengan diriku di hari al-Ghadir atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku maula kepada anda dan semua muslimin melalui hadis Nabi (s.`a.w.) di hari al-Ghadir atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah ayat al-Wilayah (al-Maidah5:55) daripada Allah bersama Rasul-Nya mengenai zakat dengan sebentuk cincin untuk aku atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Untuk anda .&lt;br /&gt;13. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah al-Wazarah (wazir) untukku bersama Rasulullah (s.`a.w.) umpama Harun bersama Musa atau untuk anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Untuk anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah Rasulullah (s.`a.w.) mempertaruhkan dengan aku, isteriku dan ana- anak lelakiku apabila bermubahalah dengan Musyrikin atau dengan isteri anda dan anak-anak lelaki anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Dengan kalian .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah ayat al-Tathir (Surah al-Ahzab 33: 33) untukku, isteriku dan anak-anak lelakiku atau untuk anda, isteri anda dan anak-anak lelaki anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda dan anak isteri anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku, isteriku dan anak-anak lelakiku yang didoakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di hari al-Kisa' "Wahai Tuhanku mereka itulah keluargaku kepada Mu dan bukan kepada neraka" atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda, isteri anda dan anak-anak lelakianda .&lt;br /&gt;17. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang dimaksudkan dengan ayat "Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana" (Surah al-Insan76:7) atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dikembalikan matahari untuk waktu solat lalu ditunaikan solatnya kemudian ia terbenam atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah melegakan Rasulullah (s.`a.w.) dan kaum Muslimin dengan pembunuhan `Amru b. `Abd Wuddin atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diamanahkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dalam perutusannya kepada jin lalu anda menyahutinya atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;21. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang disucikan oleh Allah dari perzinaan semenjak Adam sehinggalah kepada bapanya dengan sabda Rasulullah (s.`a.w.) "Aku dan anda (`Ali) dari nikah yang sah dan bukan dari perzinaan semenjak Adam hinggalah `Abdu l-Muttalib" atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;22. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah dipilih oleh Rasulullah dan mengahwinkan aku dengan anak perempuannya Fatimah (`a.s) dan bersabda: "Allah telah mengahwinkan anda dengan Fatimah di langit" atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku bapa Hasan dan Husain manakala beliau bersabda: "Kedua-duanya pemuda Ahli Syurga dan bapa mereka berdua adalah lebih baik daripada mereka berdua" atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;24. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah saudara anda yang dihiasi dengan dua sayap terbang di syurga bersama para malaikat atau saudaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Saudara anda .&lt;br /&gt;25. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah menjamin hutang Rasulullah (s.`a.w.) dan mengadakan perisytiharan di musim haji dengan melaksanakan janjinya atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;26. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku orang yang didoakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dalam keadaan burung di sisinya, di mana beliau ingin memakannya. Beliau bersabda: "Wahai Tuhanku! bawa datanglah kepadaku orang yang paling Engkau cintai selepasku bagi memakan (daging) burung itu bersamaku ". Maka tidak seorangpun datang selain daripadaku atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah akukah orang yang telah diberi mandat oleh Rasulullah (s.`a.w.) supaya memerangi al-Nakithin, al-Qasitin, al-Mariqin menurut takwil al-Qur'an atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dengan kehakiman dan kefasihan di dalam percakapan dengan sabdanya: "`Ali adalah orang yang paling alim di dalam ilmu penghakiman" atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;29. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku di mana Rasulullah (s.`a.w.) memerintahkan para sahabatnya supaya memberi salam kepadanya untuk menjadi ketua pada masa hidupnya atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;30. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang menyaksi percakapan Rasulullah (s.`a.w.) yang terakhir, menguruskan "mandi" dan mengkafankannya atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;31. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda kerabat Rasulullah (s.`a.w.) atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;32. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dikurniakan oleh Allah dengan dinar ketika dia memerlukannya dan Jibra'il menjualkannya kepada anda dan anda menjadikan Muhammad sebagai tetamu lalu anda memberi makan anaknya atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menangis dan berkata: Anda .&lt;br /&gt;33. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diletakkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di atas bahunya bagi menolak dan memecahkan berhala-berhala di atas ka`bah sehingga jika aku kehendaki nescaya aku dapat menyentuhi ketinggianlangit atau anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;34. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang disabdakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) "Andalah pemilik bendera di dunia dan di akhirat" atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;35. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang diperintahkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) supaya membuka pintu di masjidnya ketika beliau memerintahkan supaya ditutup semua pintu keluarganya dan para sahabatnya dan membenarkan pintu anda dibuka atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda telah mengeluarkan sadqah apabila anda mengadakan perbicaraan khusus dengan Rasul dikala itu Allah mengkritik satu golongan"Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) kerana kamu memberi sadqah sebelum pembicaraan dengan Rasul?" (Surah al-Mujadalah 58:13) atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;37. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dimaksudkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) ketika beliau bersabda kepada Fatimah: "Aku nikahkan akan anda kepada orang yang pertama beriman kepada Allah" atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;38. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diberi salam oleh para malaikat tujuh langit di hari al-Qulaib atau aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menjawab: Anda .&lt;br /&gt;39. `Ali berkata: Adakah dengan ini dan seumpamanya anda berhak melaksanakan urusan umat Muhammad? Apakah yang membuatkan anda terlanjur jauh dari Allah dan Rasul-Nya sedangkan anda tidak mempunyai sesuatu yang diperlukan oleh penganut agamanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr menangis dan berkata: Memang benar apa yang anda perkatakan wahai Abu l-Hassan. Tunggulah aku hingga berlalunya hariku. Aku akan memikirkan tentang jawatanku sebagai khalifah dan aku tidak akan mendengar lagi percakapan sebegini daripada anda .&lt;br /&gt;30. `Ali berkata: Itu terserah kepada anda wahai Abu Bakr. Lantas dia kembali dan jiwanya agak tenang di hari itu dan tidak membenar seorangpun berjumpa dengannya sehingga di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam munasyadah di antara Amir al-Mukminin `Ali dan Khalifah Abu Bakr ternyata bahawa Amir al-Mukminin telah mengemukakan beberapa soalan kepada Khalifah Abu Bakr khususnya mengenai Imamah/Khilafah di mana beliau berhujah bahawa jawatan Imamah/Khilafah secara langsung selepas Rasulullah (s.`a.w.) adalah haknya berdasarkan hadis-hadis Rasulullah (s.`a.w.) mengenai perlantikan beliau sebagai imam/khalifah. Ia juga disebut oleh beliau ketika melakukan munasyadah di antara beliau dan Khalifah Abu Bakr di mana Khalifah Abu Bakr kelihatan memperakui hakikat ini dan hampir-hampir menyerah jawatan Khalifah kepada Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib jika tidak dihalang oleh `Umar.&lt;br /&gt;..&lt;br /&gt;. Persoalan yang timbul, jika perlantikan Rasulullah (s.`a.w.) ke atas `Ali sebagai imam/khalifah selepas beliau itu adalah benar - Ia memang benar berdasarkan hadis-hadis Nabi (s.`a.w.) -kenapa umat mengabaikan tanggungjawab mereka untuk mentaati perlantikan beliau? Atau jika perlantikannya daripada Rasulullah s.`a.w. tidak benar, kenapa `Ali A.S menuntut bukan haknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah ini sifat Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w. yang telah disucikan di dalam Surah al-Ahzab 33: 33? Sebenarnya Amir al-Mukminin `Ali telah menerangkan kedudukannya mengenai imamah/khilafah kepada Ibn Qais yang mengemukakan soalan kepadanya. Sulaim b. Qais al-Hilali, meriwayatkan bahawa Ibn Qais bertanya kepada Amir al-Mukminin `Ali A.S: Apakah yang menghalang anda dari menghunus pedang anda untuk menuntut jawatan imamah/khilafah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amir al-Mukminin `Ali A.S menjawab: Wahai Ibn Qais! Dengarlah jawapanku: Bukanlah kerana perasaan pengecut dan kebencianku menemui Tuhanku. Aku bukanlah tidak mengetahui bahawa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagiku daripada dunia dan kekal di dalamnya. Tetapi perintah Rasulullah (s.`a.w.) yang telah menghalangku dan janji beliau kepadaku. Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa umat akan belot selepasnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu aku tidak begitu yakin terhadap apa yang mereka perlakukan di hadapanku kerana aku lebih menyakini sabda Rasulullah (s.`a.w.) daripada apa yang aku melihatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata: Wahai Rasulullah! Apakah janji anda kepadaku sekiranya ia berlaku sedemikian? Beliau bersabda: Jika anda dapat mencari pembantu-pembantu, maka tentangilah "mereka" dan jika anda tidak dapat pembantu-pembantu, tahanlah tangan anda, peliharalah darah anda sehingga anda mendapati pembantu-pembantu bagi menegakkan agama, kitab Allah dan Sunnahku .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa sesungguhnya umat aka menghinaku, membai`ah dan mengikut orang lain selain daripadaku. Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa kedudukanku di sisinya sepertilah kedudukan Harun di sisi Musa dan umat selepasnya seperti kedudukan Harun serta orang yang mengikutnya , dan kedudukan al-`Ajl (anak lembu jantan) serta orang yang mengikutnya kerana Musa berkata kepadanya: "Wahai Harun, apa yang menghalang kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku? Harun menjawab: Wahai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khuatir bahawa kamu akan berkata (kepadaku): Kamu telah memecah antara Bani Isra'il dan kamu tidak memelihara ummatku" (SurahTaha 20: 92-94).&lt;br /&gt;Apa yang dimaksudkan oleh Allah adalah sesungguhnya Musa telah memerintahkan Harun ketika beliau melantiknya ke atas mereka jika mereka sesat dan beliau (Harun) dapat pembantu-pembantunnya, hendaklah beliau menentang mereka dan sekiranya beliau tidak dapat pembantu-pembantu, hendaklah beliau menahan tangannya dan memelihara darahnya dan janganlah beliau melakukan perpecahan di kalangan mereka . Dan sesungguhnya aku takut saudaraku Rasulullah (s.`a.w.) akan berkata kepadaku kenapa anda memecahbelahkan mereka dan tidak memelihara ummatku? Sedangkan aku telah menjanjikan anda sesungguhnya jika anda tidak ada pembantu-pembantu, hendaklah anda menahan tangan anda, memelihara darah anda, darah keluarga anda dan Syi`ah anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amir al-Mukminin `Ali berkata lagi: Apabila Rasulullah (s.`a.w.) wafat, orang ramai cenderung kepada Abu Bakr lantas mereka memberi bai`ah kepadanya. Sedangkan aku sibuk memandi dan mengkafan jenazah Rasulullah (s.`a.w.). Kemudian aku menghabiskan masaku dengan mengumpulkan al-Qur'an sehingga aku mengumpulkannya di dalam satu kain. Kemudian aku, Fatimah dan di tangan-nya Hassan dan Husain, menyeru kesemua orang-orang yang terlibat di dalam peperangan Badar dan orang-orang terdahulu memeluk Islam yang terdiri daripada orang-orang Muhajirin dan Ansar, semuanya aku telah mengemukakan hujah-hujahku dengan nama Allah S.W.T.mengenai hakku dan aku telah menyeru mereka supaya membantuku. Tetapi semua mereka tidak menyahut seruanku selain daripada empat orang; al-Zubair, Salman, Abu Dhar dan al-Miqdad .&lt;br /&gt;Kemudian `Ali meneruskan kata-katanya: Wahai Ibn Qais, sesungguhnya mereka telah memaksaku dan menekanku hampir mereka membunuhku. Jika mereka berkata kepadaku: Kami semata-mata mahu membunuh anda, nescaya aku akan menghalang pembunuhan mereka terhadapku sekalipun aku seorang. Tetapi mereka berkata: Sekiranya anda memberi bai`ah (kepada Abu Bakr) nescaya kami akan melepaskan anda, memuliakan anda, mendampingi anda, menghormati anda. Dan sekiranya anda tidak melakukannya, nescaya kami membunuh anda. Apabila aku tidak dapati seorangpun yang akan membantuku, maka akupun memberi bai`ah kepada mereka. Tetapi bai`ahku terhadap mereka bukanlah membenarkan kebatilan mereka dan tidaklah mewajibkan kebenaran untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian `Ali berkata lagi: Sekiranya aku dapati di hari Abu Bakr dibai`ah empat puluh orang lelaki yang taat, nescaya aku menentang mereka .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau begitu menyesali sikap orang-orang Ansar dan Muhajirin yang tidak membantunya. Beliau mengatakan bahawa mereka telah mencintai Abu Bakr dan `Umar secara membuta tuli. Beliau berkata: Hairan sekali! Hati umat ini telah dimabukkan oleh cinta kepada mereka berdua dan mencintai orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah.&lt;br /&gt;Sekiranya umat ini berdiri di atas kakinya ke tanah dan meletakkan debu di atas kepala mereka bermunajat kepada Allah, serta menyeru di hari kiamat ke atas orang-orang yang telah menyesat dan menghalang mereka dari jalan Allah; menyeru mereka ke neraka, membentangkan mereka kepada kemurkaan Allah dan mewajibkan azab-Nya ke atas mereka kerana jenayah yang "mereka"lakukan ke atas mereka, nescaya mereka tergolong juga dari orang-orang yang cuai (muqassirin) kerana pengkaji yang benar dan alim dengan Allah dan Rasul-Nya merasa takut jika ia mengubah sesuatu sunnah dan bid`ah mereka berdua, orang ramai (umat) akan memusuhinya.&lt;br /&gt;Apabila dia melakukannya, mereka akan menyulitkan (kehidupan)nya, menentangnya, membersihkan diri daripadanya, menghinanya, merampas haknya. Dan sekiranya ia mengambil sunnah mereka berdua, memperkuinya, memujinya dan menjadikannya agama, nescaya umat mencintainya, memuliakannya dan melebih-lebihkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah sekiranya aku menerangkannya kepada askar-askarku segala kebenaran yang diturunkan oleh Allah ke atas Nabi-Nya, dan aku mendedah pentafsirannya menurut apa yang aku dengar dari Nabi Allah `a.s, nescaya sedikit sahaja askar-askarku tinggal bersama ku kerana mereka takut mendengarnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya janji Rasulullah (s.`a.w.) tidak ada denganku, nescaya aku melakukannya (menyerang mereka dengan pedang). Tetapi Rasulullah (s.`a.w.) bersabda kepadaku: "Wahai saudaraku! Apabila seorang hamba itu terpaksa melakukan sesuatu, maka Allah menghalalkannya untuknya dan mengharuskannya untuknya". Dan aku mendengar beliau bersabda: "Taqiyyah adalah dari agama Allah, tidak ada agama (al-Din) bagi orang yang tidak melakukan taqiyyah untuknya" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu `Ali percaya bahawa orang lain selain Ahl al-Bait a.s tidak layak memegang jawatan Imamah. Kerana ia telah dipilih oleh Allah S.W.T. Sulaim b. Qais al-Hilali menulis: `Ali berkata: Demi orang yang telah memuliakan kami Ahl al-Bait dengan "kenabian". Dia telah menjadikan di kalangan kami Muhammad. Dia memuliakan kami selepasnya di mana Dia menjadikan pada kami para imam bagi mukminin, orang lain selain daripada kami tidak boleh mencapainya. Imamah dan Khilafah tidak layak melainkan pada kami .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amir al-Mukminin `Ali b. Abu Talib yakin bahawa imamah/khilafah adalah haknya dan hak sebelas anak cucunya daripada Fatimah a.s berdasarkan kepada hadis al-Ghadir dan lain-lain. Oleh itu bai`ah beliau terhadap Abu Bakr selepas kewafatan Fatimah al-Zahra adalah secara terpaksa, tanpa pembantu-pembantu. Jika tidak beliau akan menghadapi musibat sebagaimana dihadapi oleh Nabi Harun a.s. Justeru itu janji Rasulullah (s.`a.w.) dengan beliau dipeliharanya demi perpaduan umat Islam sejagat. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-962396011224076637?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/962396011224076637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=962396011224076637' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/962396011224076637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/962396011224076637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2009/05/siapa-abu-bakr-di-sisi-ali-as.html' title='Siapa Amirul Mukiminin?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/ShMQA0aVSuI/AAAAAAAAAOs/-p4SUsNrrl8/s72-c/tuan-guru.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-5360326796697493067</id><published>2009-05-19T12:42:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T12:49:16.427-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al Khattab'/><title type='text'>Pengumpulan harta-harta selepas wafat rasulullah saww</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/ShMMuFN5UiI/AAAAAAAAAOk/u9XoH9A7EgM/s1600-h/animatedpotrait2_bm.gif"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 171px; DISPLAY: block; HEIGHT: 254px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337623969178145314" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/ShMMuFN5UiI/AAAAAAAAAOk/u9XoH9A7EgM/s320/animatedpotrait2_bm.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Umar bin al-Khattab tidak mensabitkan keadilan Abu Hurairah; manakala beliau mengutusnya ke Bahrain, dia membawa pulang bersamanya sepuluh ribu dinar.Adakah anda mengumpul kekayaan dengan harta ini wahai musuh Allah dan musuh KitabNya? Abu Hurairah menjawab:"Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh KitabNya, tetapi aku adalah musuh sesiapa yang memusuhi kedua-duanya." Umar berkata:"Dari manakah anda mendapatkan harta-harta itu?"Dia menjawab:"Kuda membiak, hasil tanaman yang subur, seorang hamba untukku dan hadiah-hadiah diberikan (untukku)."&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;1&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;1. Ibn Kathir, Tarikh, VIII, hlm.113&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-5360326796697493067?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/5360326796697493067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=5360326796697493067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/5360326796697493067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/5360326796697493067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2009/05/pengumpulan-harta-harta-selepas-wafat.html' title='Pengumpulan harta-harta selepas wafat rasulullah saww'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/ShMMuFN5UiI/AAAAAAAAAOk/u9XoH9A7EgM/s72-c/animatedpotrait2_bm.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-5092218652624999991</id><published>2009-05-01T22:44:00.000-07:00</published><updated>2009-05-01T23:47:17.984-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='500 Ayat'/><title type='text'>Benarkah Hari Ghadir Khum?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SfvgJIdeoEI/AAAAAAAAAOc/3KGsZLO-htU/s1600-h/KNIGHT.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331101031417684034" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 156px; CURSOR: hand; HEIGHT: 224px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SfvgJIdeoEI/AAAAAAAAAOc/3KGsZLO-htU/s400/KNIGHT.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Abu Said al-Khudri berkata,"Ketika Rasul saw menyeru orang-orang untuk berbaiat kepada Ali di Ghadir Khum, yang bertepatan dengan hari khamis, ayat ini turun kepada beliau:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;"Pada hari ini, telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agama bagimu."&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;(&lt;/span&gt; al-Maidah : 3)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Rasul saw lalu bersabda, &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;'Segala puji bagi Allah atas kesempurnaan agama dan nikmat serta ridha-Nya atas risalahku dan kepimpinan Ali sepeninggalku."&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;(I'lam al-Wara bi A'lam al-Huda, jil. I, hal. 263; Qishash al-Anbiya', Rawandi, hal. 355.)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;*************************************************************************************&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ibnu Abbas berkata, "Di hari Ghadir Khum, Rasulullah saw mengangkat tangan Ali dan bersabda, '&lt;strong&gt;Barangsiapa menjadikanku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang menentangnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan bencilah orang yang membencinya.'" &lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Al-Ghadir, jil. IX, hal. 269; al-Muntakhab min al-Shihah al-Sittah, hal. 232; Majma' al-Zawaid, jil. IX, hal. 106; al-Mu'jam al-Kabir, Thabrani, jil. II, hal. 357; Kanz al- Ummal, jil. IX, hal. 609 hadis ke- 32948.)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;Rasul saw bersabda&lt;/span&gt;," &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Engkau adalah waliku di dunia dan akhirat, jiwaku yang berada di kedua sisiku, pemimpin (umatku), pembantuku, dan washiku-ku. Engkau adalah khalifahku dan pemegang panjiku di dunia dan akhirat."&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;(Al-Khisal, hal. 429; al-Ghadir, jilid. IX, hal. 300; Kanz al-Ummal, jil. IX, hal. 612 hadis ke-32965)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-5092218652624999991?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/5092218652624999991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=5092218652624999991' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/5092218652624999991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/5092218652624999991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2009/05/nikmat-beragama.html' title='Benarkah Hari Ghadir Khum?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SfvgJIdeoEI/AAAAAAAAAOc/3KGsZLO-htU/s72-c/KNIGHT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-2325777666946863777</id><published>2008-12-30T20:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-30T20:20:21.572-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Duka Emosi Dan Jiwa'/><title type='text'>Ya Hussain</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Shallallahu ‘alaika ya Aba ‘Abdillah Shallallahu ‘alaika ya Mazlum bi Karbala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shallallahu ‘alaika ya Syahid bi Karbala Salam sejahtera bagimu ya Aba ‘Abdillah al-Husain bin ‘Ali (as.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sejahtera bagimu wahai putra Rasulullah (saw.) Salam sejahtera bagimu wahai putra Fatimah az-Zahra’ (as.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam kepada yang terputus kepala sucinya. Salam kepada darah Fatimah yang tertumpah. Salam kepada yang dicincang tubuh sucinya. Salam kepada belahan jiwa Rasul. Salam kepada cahaya Ali. Kepada salam adik Al-Hasan. Salam kepada Abu Abdillah. Salam kepada Al-Husain yang teraniaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puja dan puji bagi Allah yang menampakkan diri-Nya kepada para hamba-Nya di dalam lubuk hati mereka. Yang menyampaikan kehendak-Nya dalam bentuk Sunnah dan Al-Kitab (Al-Qur’an). Yang menyucikan para kekasih-Nya dari gemerlap dunia yang penuh tipuan dan rayuan, lalu membawa mereka menuju cahaya kebahagiaan. Allah mengutamakan mereka atas semua makhluk karena kemuliaan dan keutamaan yang mereka miliki. Dialah yang menunjukkan kepada mereka sebaik-baiknya jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi kemuliaan tersebut, jiwa para syuhada Karbala melayang jauh tinggi, mereka berebut untuk menyongsong maut, dan akhirnya kawanan tombak dan sayatan pedang mencabik-cabik badan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak ada perintah Al-Qur’an dan sunnah untuk bersedih dan berduka, atas gugurnya panji kebenaran dan terpuruknya fondasi kesesatan, sebagai perwujudan rasa sedih akan hilangnya kesempatan mendapatkan karunia tersebut dan rasa perih menyaksikan pembantaian seperti ini, kita akan senantiasa menyambut kenikmatan agung Ilahi ini dengan kegembiraan.&lt;br /&gt;Ketika rasa sedih dan duka merupakan ridha Allah, Sang Raja pada hari kebangkitan, dan kecintaan para hamba saleh, karenanya kita mengenakan busana duka dengan berlinang air mata, seraya berkata pada mata kita “Deraskan cucuran air matamu dalam tangisan yang panjang.” Dan kepada hati, kita katakan “Lakukanlah sesuatu yang biasa dilakukan para wanita ketika ditimpa musibah”.&lt;br /&gt;Karena pusaka peninggalan Nabi Saww telah disia-siakan di hari Asyura’. Wasiat beliau pun mengenai keluarga dan keturunannya dikoyak-koyak oleh tangan umat dan musuh-musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh betapa besar musibah yang menyayat hati ini, tragedi yang melahirkan kesedihan mendalam, bencana yang mengecilkan segala cobaan, tragedi yang mencabik-cabik simbol ketakwaan, anak-anak panah yang menumpahkan darah risalah Ilahi, tangan-tangan yang menggiring tawanan kebesaran, bencana yang menundukkan kepala setiap insan mulia, cobaan yang mengorbankan jiwa sebaik-baiknya keluarga, pesta para musuh yang mengguncang hati para jawara, tragedi yang menyedihkan bagi Jibril, dan kejahatan besar di sisi Tuhan Yang Maha Agung dan Jalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, bukankah darah daging Rasulullah Saww terkapar di padang pasir. Darahnya yang suci tertumpah oleh pedang-pedang kesesatan. Wajah putri-putri beliau ditatap oleh mata para musuh Tuhan. Mereka menjadi tontonan khalayak ramai. Jasad para syuhada yang agung terlucuti dari pakaiannya. Raga mereka yang kudus tersungkur di atas tanah. Sungguh musibah besar yang menyayat hati Nabi dengan anak panah yang menancap pada kalbu hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang yang bersedih bosan dengan kesedihan, para pembawa kabar datang dengan kesusahan dan duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, andaikan saja Fatimah a.s. dan ayahnya menyaksikan putra dan putri mereka yang terampas, terluka, diseret dan disembelih. Para putri Nabi pun memukul2 tubuh mereka karena kebingungan ditinggal oleh orang-orang yang mereka cintai. Kerudung kepala mereka terbuka. Mereka memukuli pipi sendiri. Tak ada yang dapat mereka lakukan lagi, selain berlomba menguras tangisan dan jeritan, karena berpisah dari para penjaga dan pembela kehormatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai insan yang berbudi luhur, wahai pribadi dengan akal dan pikiran jernih, ceritakanlah pada diri kalian tragedi yang menimpa keluarga ini. Tangisilah mereka demi keridhaan Tuhan. Bantulah mereka dengan cinta dan air mata. Bersedihlah karena tidak dapat menolong mereka.&lt;br /&gt;Mereka adalah pusaka peninggalan penghulu umat manusia, buah hati Rasulullah Saww, cahaya mata Fatimah Az-Zahra’. Lisan suci Rasulullah Saww telah banyak menyebutkan kemuliaan mereka. Ayah dan ibu mereka lebih beliau utamakan dari seluruh umatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mengherankan, bagaimana para durjana itu sampai hati membalas kebaikan kakeknya Saww dengan kekufuran, padahal zaman belum jauh berselang. Mereka telah mengeruhkan kehidupan beliau dengan menyiksa buah hatinya, dan meremehkan beliau dengan menumpahkan darah putra kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana bukti kesetiaan mereka pada wasiat beliau untuk memelihara keluarganya? Jawaban apakah gerangan yang hendak mereka berikan kala berjumpa dengan beliau kelak? Padahal mereka telah menghancurkan bangunan yang beliau dirikan, dan Islam meneriakkan jeritan duka?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hati tidak akan hancur kala mengingat tragedi ini? Sungguh mengherankan bagaimana umat melupakannya! Apa yang akan dijadikan alasan oleh mereka yang mengaku beragama Islam dan beriman padahal lalai akan tragedi menyayat hati yang menimpa agama?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah mereka tahu bahwa Muhammad adalah keluarga korban pembantaian ini? Bukankah putra kesayangan beliau dibantai dan dicampakkan di padang sahara? Bukankah para malaikat datang mengucapkan bela sungkawa kepada beliau atas musibah besar yang beliau alami? Bukankah para Nabi bersama beliau dalam duka dan nestapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah jawaban kamu, jika Nabi kamu menanyakan kepadamu,&lt;br /&gt;Apa yang sudah kamu perbuat,&lt;br /&gt;Wahai umatku yang hidup sepeninggalku,&lt;br /&gt;Kamu apakah kaum keluargaku setelah aku tiada,&lt;br /&gt;Ada yang menjadi tawanan, ada yang berlumuran darah?&lt;br /&gt;Inikah yang kamu berikan kepadaku,&lt;br /&gt;Setelah aku menunjuki kamu agar kamu selamat,&lt;br /&gt;Kamu membalas dengan perlakuan yang buruk kepada keluargaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang yang membunuh “Husain” tanpa berpikir,&lt;br /&gt;Bergembiralah engkau menerima siksa dan kutukan.&lt;br /&gt;Semua penghuni langit mendoakan agar kamu binasa,&lt;br /&gt;Baik nabi, atau malaikat ataupun umat,&lt;br /&gt;Kamu sudah dikutuk dengan ucapan Nabi Daud,&lt;br /&gt;Dan juga Nabi Musa, dan Nabi Isa membawa Injil “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku berjalan perumahan keluarga Nabi Muhammad Saw&lt;br /&gt;Aku tidak melihat penghuninya lagi,&lt;br /&gt;Seperti ramainya dahulu pada waktu dibangun....!&lt;br /&gt;Ya, semogalah Allah tidak menjauhkan rumah dan penghuninya,&lt;br /&gt;Walaupun kini penghuninya sudah sepi!&lt;br /&gt;Sungguh, keturunan Hasyim yang syahid di padang Karbala itu,&lt;br /&gt;Menyebabkan kehinaan menimpa kaum muslim,&lt;br /&gt;Dahulu mereka merupakan perempuan harapan,&lt;br /&gt;Tetapi kini sudah menjadi bencana yang menimpa kemanusiaan!&lt;br /&gt;Ya, sungguh bencana itu sangat besar dan agung......!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jenazah, yang ditangisi oleh Fatimah,&lt;br /&gt;Serta ayahnya, dan juga Ali yang mempunyai ketinggian,&lt;br /&gt;Andaikan Rasulullah saw masih hidup,&lt;br /&gt;Tentu beliau sudah duduk menerima ucapan belasungkawa,&lt;br /&gt;Mereka membawa kepala Husain ke mana-mana.&lt;br /&gt;Kepala cucu yang mereka membaca salawat kepada kakeknya,&lt;br /&gt;Entah dengan ikhlas, ataupun dengan terpaksa!&lt;br /&gt;Ya Rasulullah, andaikan Rasulullah melihat cucu-cucunya,&lt;br /&gt;Ada yang terbunuh , dan ada yang tertawan,&lt;br /&gt;Tentulah Rasulullah menyaksikan pemandangan,&lt;br /&gt;Yang menyebabkan hati terharu dan air mata berlinang,&lt;br /&gt;Sungguh, perbuatan seperti itu tidak pantas dilakukan,&lt;br /&gt;Sebagai membalas jasa kepada Rasulullah saw!&lt;br /&gt;Oh umat yang durhaka, diktator yang melanggar ,&lt;br /&gt;yang menyembelih cucu-cucu Rasulullah saw,&lt;br /&gt;Seperti menyembelih kurban pada hari ‘Idul Adha,&lt;br /&gt;Kemudian menggiring kaum – wanitanya seperti tawanan,&lt;br /&gt;Sepanjang jalan mereka menjerit dan meraung,&lt;br /&gt;Memanggil Rasulullah saw berulang kali,&lt;br /&gt;Disela-sela letihnya berjalan dan beratnya langkah !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para insan yang setia kepada Rasulullah, mengapa kalian tidak menyertai beliau dengan cucuran air mata?&lt;br /&gt;Demi Allah, wahai pencinta putra Fatimah, iringilah beliau dalam meratapi jasad-jasad pembantaian ini! Berusahalah untuk mencucurkan air mata beriringan. Tangisilah kepergian pemimpin Islam ini, agar anda mendapatkan pahala orang yang bersedih atas musibah yang menimpa mereka dan meraih kebahagiaan di hari perhitungan awal kelak! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-2325777666946863777?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/2325777666946863777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=2325777666946863777' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/2325777666946863777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/2325777666946863777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2008/12/ya-hussain.html' title='Ya Hussain'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-1296330363087105966</id><published>2008-10-15T10:31:00.000-07:00</published><updated>2008-10-15T10:33:14.298-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kahwin Mut`ah'/><title type='text'>TIDAK SEMPURNA IMAN JIKA TIDAK NIKAH MUT`AH?</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Sebagaimana dilaporkan salah satu majalah nasional kita, Menteri Dalam Negeri Iran mengajak para anggota parlemen dan para pakar agama untuk memikirkan regulasi dan sosialisasi nikah mut’ah. Gagasan ini dilontarkannya sebagai solusi tingginya biaya nikah permanen yang menyulitkan kaum muda Iran sekaligus antisipasi terhadap efek pergaulan antar lawan jenis.   Seperti diketahui, meski mayoritas penduduknya bermazhab Syiah yang menghalalkan mut’ah, praktiknya di Iran masih dianggap tabu. Karena itu, lontaran tersebut mengundang pro dan kontra.   Tentu, kasus ini masih bisa dibatasi dalam konteks Iran. Namun, suatu saat, masalah ini bisa dikaji pula oleh para ulama di Indonesia, yang mayoritas bermazhab Sunni. Terlepas dari soal halal dan tidak halalnya mut’ah, hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan diatur oleh Islam dalam sebuah syariat yang disebut dengan nikah atau perkawinan.   Disepakati oleh seluruh mazhab Islam, pada masa hidup nabi, ada dua macam pola pernikahan; nikah daim (pernikahan permanent) dan nikah muwaqqat (pernikahan berjangka), yang dikenal dengan mut’ah. Dalam nikah jenis kedua ini dua pelaku berlainan jenis melangsungkan akad nikah dengan menyebutkan batas waktu berpisah yang telah disepakati.   Apakah hukum halal melakukan nikah berjangka ini sudah dicabut dalam fikih Islam ataukah tidak? Inilah titik beda antara dua mazhab Islam, Sunni dan Syiah. Sebagian besar ulama Sunni yang menganggapnya sebagai haram terbagi dua. Sebagian berpendapat hukum halal  mut’ah dihapus pada masa hidup Nabi dengan ayat al-Quran atau hadis Nabi. Sebagian lain menganggapnya haram, karena penghapusan Umar bin Khattab pada masa pemerintahannya. Para ulama Syiah berkeyakinan bahwa hukum halal mut’ah berlaku hingga hari kiamat.   Dalam  Shahih Bukhari dan Muslim ditemukan pernyataan Khalifah kedua, “Ada dua tamattu’ (mut’ah) yang dulu pernah berlaku pada zaman Rasulullah saw dan khalifah yang sekarang aku haramkan dan akan aku jatuhkan hukuman atas pelakunya; nikah mut’ah dan haji tamattu’.   Para ulama Syiah berkeyakinan bahwa tidak ada satu ayatpun atau hadis yang menghapus hukum kebolehan tersebut. Menurut mereka, jika mut’ah telah diharamkan oleh Nabi baik dengan sebuah hadis atau ayat, maka Khalifah Umar atau pemimpin setelah beliau tidak perlu mengharamkannya lagi atau mencabut hukum halalnya.   Berkenaan syarat-syarat  yang berlaku pada nikah jenis kedua ini, secara umum sama dengan syarat-syarat nikah jenis pertama, seperti keharusan seorang wanita calon istri haruslah seorang yang tidak dalam ikatan perkawinan dengan orang lain atau dalam masa iddah. Begitu juga keharusan adanya izin dari wali, bila dia gadis (belum pernah menikah) dan keharusan penggunaan format (shighat) dalam akad nikah, yaitu  ijab kabul dan sebagainya.   Para ahli hukum Islam menyebutkan, bahwa di antara latar belakang disyariatkannya kebolehannya adalah peperangan yang berkepanjangan sebagai antisipasi dan solusi bagi para prajurit yang berpisah lama dengan istrinya dan terdorong untuk memenuhi kebutuhan seksual. Dan karena pemenuhan kebutuhan seksual tidak mengenal waktu, maka kapanpun hukumnya masih tetap berlaku, terutama bila dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam perbuatan dosa.   Sembari mencermati Iran, para ulama dan pakar hukum serta pemerhati sosial di negeri kita, diharapkan mampu melahirkan terobosan yang berbasis hukum agama sebagai antisipasi terhadap pola komunikasi bebas antar lawan jenis, yang merupakan akibat tak terelakkan dari modernitas dan pengaruh dari globalisasi. Mut’ah mungkin saja menjadi solusi moral dan finansial di Iran karena mayoritas penduduknya adalah Muslim  Syiah.   Namun, bukankah Islam adalah  agama yang relevan sepanjang masa? Bukankah substansi dan argumen lebih diutamakan ketimbang sentimen dan fanatisme sektarian yang hanya akan menciptakan kejumudan? Yang pasti, pengaturan hubungan seksual tidak bisa dianggap lebih kecil dari persoalan sembako dan lumpur Lapindo.   Lalu mungkikah mut’ah disosialisasikan di Indonesia di masa mendatang? Sulit menjawabnya, karena fanatisme bisa membuat orang mengutamakan hubungan seksual tanpa nikah ketimbang  menerima pendapat mazhab lain meski berdalil al-Quran dan hadis? DIKUTIB DARI ADILNEWS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-1296330363087105966?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/1296330363087105966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=1296330363087105966' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/1296330363087105966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/1296330363087105966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2008/10/tidak-sempurna-iman-jika-tidak-nikah.html' title='TIDAK SEMPURNA IMAN JIKA TIDAK NIKAH MUT`AH?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-5851294108157229360</id><published>2008-10-11T06:07:00.000-07:00</published><updated>2008-10-11T06:10:45.974-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FAKTA'/><title type='text'>BENARKAH ABU HURAIRAH R.A?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;Hadith Abu Hurairah&lt;br /&gt;Mereka bersetuju dengan Abu Hurairah dan keistimewaannya mengatasi sahabat-sahabat Nabi SAWA yang lain. Beliau adalah seorang yang paling banyak meriwayatkan hadith Rasulullah SAWA sedangkan beliau tidak tahu membaca dan menulis. Sebagaimana beliau sendiri menyatakannya. Dan kenyataannya itu dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya:"Aku menghadiri satu majlis Rasulullah SAWA....."Beliau bersabda:"Sesiapa yang membentangkan kainnya sehingga aku melaksanakan bacaanku (doaku), kemudian ia memegangnya kembali, nescaya dia tidak akan melupai sesuatu yang ia dengarnya daripadaku, oleh itu aku membentangkan kainku (burdah) ke atasku sehingga beliau melaksanakan bacaannya (doanya), kemudian aku memegangnya kembali. Demi orang yang diriku ditanganNya. Aku tidak melupai sesuatu yang aku dengar daripadanya."&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#1."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Persoalan yang timbul, di manakah tawaran ini dibuat oleh Rasulullah SAWA dan kenapa sahabat-sahabat lain tidak berlumba-lumba bagi mendapatkan keistimewaan ini? Adakah mereka mengesyaki dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAWA? Tentu tidak sekali! Atau mereka tidak mempunyai kain untuk dibentangkan (di hadapan Rasulullah SAWA) sebagaimana ianya telah dibentangkan oleh Abu Hurairah? Bolehkah kita mengemukakan soalan-soalan sedemikian rupa? Atau ianya tidak diizinkan? Atau kita kembali ke zaman-zaman yang silam, dengan mendiamkan diri kerana takut jatuh di dalam kezindiqan atau tidak ada di sebaliknya (zindiq) selain daripada pedang, seksaan atau sebagainya!&lt;br /&gt;Al-Khatib al-Baghdadi menceritakan satu peristiwa di mana hadith Abu Hurairah disebut di hadapan Harun al-Rasyid:"Sesungguhnya Musa berjumpa Adam dan bertanya:"Adakah anda Adam yang telah mengeluarkan kami dari syurga? Seorang lelaki Quraisy bertanya:"Di manakah Adam berjumpa denga Musa?" Lalu Harun al-Rasyid memarahinya dan berkata:"Seksaan atau pedang (pembunuhan). Ini adalah seorang kafir zindiq sedang mencaci hadith Rasulullah SAWA."&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#2."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita dapati betapa besar dan bahayanya perkara ini. Lelaki tadi bertanya tentang tempat berjumpa Musa dengan Adam supaya ianya menjadi lebih jelas kepadanya. Mungkin dia tidak tahu akibatnya, lalu dia dituduh dengan zindiq. Kerana dia meminta penjelasan tentang kesulitan yang terdapat di dalam hadith Abu Hurairah, kemudian dia dituduh pula mencaci hadith Rasulullah SAWA.&lt;br /&gt;Bagaimana pula jika dia meminta penjelasan tentang hadith Abu Hurairah yang telah dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari dan Muslim:&lt;br /&gt;Terjemahan:"Sesungguhnya Neraka Jahannam tidak akan penuh sehingga Allah meletakkan kakiNya, maka Neraka Jahannam berkata:"cukup, cukup."&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#3."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya begitu, adalah menjadi satu kesalahan bagi setiap Muslim yang membersihkan Allah Ta'ala daripada sifat tersebut dengan mempersoalkan hadith tersebut, kerana ianya mengikut mereka, adalah mencaci Abu Hurairah, dan mencaci Abu Hurairah adalah mencaci Rasulullah SAWA.&lt;br /&gt;Bagaimana pula jika dia ingin meminta penjelasan mengenai tempat di mana Allah turun di langit dunia ketika tinggal 1/3 (akhir) malam. Abu Hurairah meriwayatkan hadith tersebut kemudian ianya dikeluarkan oleh al-Bukhari, Muslim dan Ahmad bin Hanbal.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#4."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kami ialah mengemukakan hadith-hadith Abu Hurairah yang meragukan kerana bilangan hadithnya terlalu banyak sehingga mendatangkan syak tentang kebenarannya. Sedangkan beliau adalah seorang yang buta huruf, tidak boleh membaca dan menulis. Beliau baru masuk Islam, dan sahabat yang paling sedikit bersama Rasulullah SAWA. Beliau menceritakan peristiwa-peristiwa yang dia sendiri tidak berada di tempatnya.&lt;br /&gt;Di antaranya beliau menceritakan bahawa Nabi SAWA terlupa di dalam sembahyangnya (sedangkan beliau bersih daripada itu).&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#5."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[5] &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;Abu Hurairah berkata:"Rasulullah sembahyang Zuhr atas Asr bersama kami dalam dua raka'at, maka Dzul Yadain bertanya adakah anda mengurangkan sembahyang atau anda terlupa?&lt;br /&gt;Muslim mengeluarkan hadith tersebut dengan lafaz:"Manakala aku (Abu Hurairah) sembahyang bersama Rasulullah SAWA....."&lt;br /&gt;Hadith tersebut menunjukkan Abu Hurairah bersama di dalam peristiwa tersebut. Apa yang tidak syak lagi bahawa Abu Hurairah masuk Islam selepas peperangan Khaibar dalam tahun 7 Hijrah. Dan kewafatan Dzul Yadain di dalam peperangan Badr di dalam tahun kedua Hijrah. Mereka (penyokong Abu Hurairah) cuba mencari titik persamaan di dalam hadith tersebut, tetapi mereka tidak dapat jawapan yang memuaskan.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#6."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah juga menceritakan tentang Ruqaiyah binti Rasulullah SAWA di mana beliau berjumpa dengannya dan bertanyakan kepadanya mengenai kelebihan Uthman.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#7."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Ruqaiyah meninggal dunia sebelum Islam Abu Hurairah pada tahun ketiga Hijrah. Begitu juga beliau tidak hadir di Madinah dan beliau bercakap perkara-perkara yang beliau dakwa, beliau telah menyertainya sebagaimana katanya:"Aku bersama Ali AS, ketika Nabi SAWA mengutusnya dengan Surah al-Bara'ah."&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#8."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Di mana di tempat yang lain pula beliau berkata:"Aku bersama Abu Bakr,"sedangkan sejarah memberi penyaksian bahawa beliau tidak pernah hadir di Madinah, kerana beliau menjadi bilal di Bahrain."&lt;br /&gt;Kami telah kemukakan beberapa contoh percanggahan yang di dapati di dalam riwayat-riwayat Abu Hurairah.&lt;br /&gt;Apabila kami meneliti dan menolak riwayat yang tidak betul, maka itulah yang diwajibkan oleh Islam dan diakui oleh akal.&lt;br /&gt;Walau bagaimanapun Abu Hurairah menduduki tempat pertama orang yang terbanyak meriwayatkan hadith. Oleh itu menilai kembali hadith-hadith yang begitu banyak, tidaklah bermakna mencaci hadith Rasulullah SAWA. Lantaran itu ianya pula tidak boleh sama sekali dikatakan bahawa Syi'ah tidak langsung berpegang kepada hadith-hadith sahabat.&lt;br /&gt;Di sini kami tidak mahu membincangkan hadith Abdullah bin Umar dan pengkhususannya yang membuatkannya menduduki tempat kedua selepas Abu Hurairah. Abdullah bin Umar meriwayatkan 2630 hadith &lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#9."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt; di mana orang yang paling tua, dan paling rapat bergaul dengan Nabi tidak dapat berbuat demikian. Beliau berumur 20 tahun manakala Nabi SAWA meninggal dunia. Banyaknya hadith yang diriwayatkan oleh beliau telah melahirkan tandatanya sebagaimana di sana terdapat beberapa perkara yang menegah kami dari menerima kebanyakan riwayat-riwayatnya.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#10."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt; Dan tawaqquf (tidak menerima dan menolak) terhadap riwayatnya, tidak membawa cacian kepada sahabat. Kami tidak mahu meminta maaf kerana menolak hadith-hadith beliau, apabila kami dapati hakikatnya yang sebenar. Tetapi rekod-rekod mengenai perbuatan beliau, adalah cukup untuk mendedahkan hakikat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#11."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt; Kami akan tutup perbincangan dengan panjang lebar mengenainya  (di sini) kerana ingin meringkaskannya. Kami akan membincangkan secara terperinci mengenainya di tempat yang lain.&lt;br /&gt;Adapun Umm al-Mu'mimin Aisyah, kami tidak ingin membincangkan kehidupan dari awal hingga akhir, kerana ianya akan terkeluar daripada tajuk buku ini.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://melayu.husayniya.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=131&amp;amp;Itemid=45#12."&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt; Tetapi apa yang kami mahu ialah perbincangan mengenai hadithnya secara ringkas, kerana personalitinya mempunyai kedudukan di dalam masyarakat dan kesan kepada Tasyri' Islami. Beliau mengatasi isteri-isteri Nabi SAWA yang lain di dalam meriwayatkan hadith.&lt;br /&gt;Nota Kaki:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="1." name="1."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;1. Ahmad bin Hanbal, XII, hlm.72; Ibn Qutaibah menceritakan di dalam bukunya Ta'wil Fil Mukhtalaf al-Hadith, hlm.27, bahawa Nizam berkata:"Umar, Uthman, Ali AS, dan Aisyah menolak riwayat Abu Hurairah; Ibn Kathir, Tarikh, XIII, hlm.105 &lt;/span&gt;&lt;a title="2." name="2."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;2. Tarikh Baghdad, XIV, hlm.7 &lt;/span&gt;&lt;a title="3." name="3."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;3. Ahmad bin Hanbal, Musnad, III, hlm.314; al-Bukhari, Sahih, III, hlm, 127; Muslim, Sahih, II, hlm.482 &lt;/span&gt;&lt;a title="4." name="4."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;4. Al-Bukhari, Sahih, IV, hlm.68, I, hlm.136; Muslim, Sahih, I, hlm, 283; Ahmad bin Hanbal, Musnad, II, hlm.258 &lt;/span&gt;&lt;a title="5." name="5."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;5. Jika sekiranya Nabi SAWA terlupa, ini bermakna beliau mungkin tidak melaksanakan sebahagian yang diperintahkan kepadanya. Oleh itu perutusannya tidak mencapai maksud dan ianya akan menjauhkan orang ramai dari mendekatinya. Dan ianya bertentangan dengan Surah 107:4-5. &lt;/span&gt;&lt;a title="6." name="6."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;6. Hasyiah Ibn Abidin 'Ala al-Dur al-Mukhtar, I, hlm. 643; al-Bukhari, Sahih, II, hlm.163; Muslim, Sahih, II, 309, telah mencatatkan hadith Abu Hurairah yang menceritakan bagaimana Nabi Musa AS telah menampar Izrail, lalu mencederakan sebiji matanya. Tindakan itu adalah disebabkan Izrail ingin mengambil nyawanya dan tidak disetujui oleh Nabi Musa AS pada ketika itu. &lt;/span&gt;&lt;a title="7." name="7."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;7. Al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm.48 &lt;/span&gt;&lt;a title="8." name="8."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;8. Nasai, Sahih, Bab al-Hajj, IV, hlm.150. Lihat Bukhari, Sahih 3, hlm.48 tentang dakwaan beliau berada di Khaibar tetapi dia tidak ada. &lt;/span&gt;&lt;a title="9." name="9."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;9. Ini bermakna Abdullah bin Umar telah meriwayatkan hadith lebih banyak daripada Khalifah empat sebanyak 1219 hadith kerana mereka hanya meriwayatkan sebanyak 1411 hadith. Dan beliau meriwayat lebih daripada bapanya sebanyak 2093 hadith kerana bapanya hanya meriwayatkan 537 hadith sahaja. &lt;/span&gt;&lt;a title="10." name="10."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;10. Al-Bukhari telah mencatatkan sebuah hadith riwayat Abdullah bin Umar mengenai cara Nabi SAWA "membuang air"(kecil atau besar). Abdullah bin Umar berkata: Aku memanjat artaqaitu di atas rumah Hafsah, maka aku melihat Nabi SAWA sedang membuang air dalam keadaan membelakangi Qiblat, menghadap ke arah Syam, al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 117. Ini adalah bertentangan daripada apa yang dipersetujui umum bahawa Nabi SAWA melarang membuang air mengadap atau membelakangi Qiblat. Oleh itu ianya pasti tidak dilakukan oleh Nabi SAWA kerana terbukti betapa bertentangannya larangan Nabi dan perbuatannya. Demi menjaga Abdullah bin Umar, sebahagian ulamak berpendapat bahawa ianya adalah khusus untuk Nabi SAWA. Mereka tidak berani mengatakan bahawa riwayat Abdullah bin Umar itu adalah palsu kerana mereka mahu menjaga sahabat iaitu Abdullah bin Umar dan tidak mahu menjaga Nabi SAWA. &lt;/span&gt;&lt;a title="11." name="11."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;11. Ibn Athir, al-Kamil, I, hlm.199, menyatakan bahawa manakala Muawiyah berazam supaya Yazid dibai'ahkan, dia memberi 100 ribu dirham kepada Abdullah bin Umar, dan dia menerimanya. Manakala Muawiyah menyebut sahaja tentang bai'ah Yazid,"Abdullah bin Umar berkata: Inilah yang aku kehendaki....Apa yang anehnya ialah Abdullah bin Umar mengetahui tentang kefasikan dan kejahatan Yazid. Tetapi dia masih meminta keluarganya supaya memberi bai'ah kepada Yazid sekalipun ia (Yazid) adalah seorang pemabuk, pembunuh Husayn AS, dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;a title="12." name="12."&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#333333;"&gt;12. Asad Haidar, Aisyah Wa al-Tasyri', Beirut, 1968. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-5851294108157229360?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/5851294108157229360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=5851294108157229360' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/5851294108157229360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/5851294108157229360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2008/10/benarkah-abu-hurairah-ra.html' title='BENARKAH ABU HURAIRAH R.A?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-4504100596560697665</id><published>2008-08-17T03:07:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T03:34:25.693-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='USHULUDDIN'/><title type='text'>ISLAM YG BERWARNA WARNI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah Yang Bertentangan dangen Al-Quran?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="PDF" onclick="window.open('http://melayu.husayniya.org/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=139','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" href="http://melayu.husayniya.org/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=139" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Print" onclick="window.open('http://melayu.husayniya.org/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=139&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0&amp;amp;Itemid=2','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" href="http://melayu.husayniya.org/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=139&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0&amp;amp;Itemid=2" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="E-mail" onclick="window.open('http://melayu.husayniya.org/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=139&amp;amp;itemid=2','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no'); return false;" href="http://melayu.husayniya.org/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=139&amp;amp;itemid=2" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:85%;"&gt;Written by Abu Ashbal&lt;br /&gt;Tuesday, 24 June 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah Yang Bertentangan dangen Al-Quran&lt;br /&gt;AI-Asy’ari sebagai pelopor mazhab al-Asya’irah kemudian dikenali dengan mazhab Ahlu Sunnah Wa I-Jama’ah, adalah seorang yang pernah hidup di abad ketiga Hijrah. Beliau dikatakan meninggal dalam tahun 330H?Ini bererti tiga abad seiepas kewafatan Nabi Sawa orang-orang Islam tid&amp;shy;ak berpegang kepada mazhab al-Asya’irah atau mazhab Ahlu s-Sunnah Wa I-Jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;Menurut al-Syahrastani (w. 548H), bermulanya mazhab Ahlu Sunnah Wa I-Jama’ah apabila ai-Asy’ari berkecimpung dengan golongan al-Sifatiyyah (menetapkan sifat-sifat azaliyyah bagi Allah S.W.T) dan menyokong pendapat-pendapat mereka dengan hujah-hujah Ilmu I-Kalam. Dan semen&amp;shy;jak itulah nama al-Sifatiyyah bertukar kepada al-Asy’a’iyyah. (al-MiIal Wa n-NiIial, Cairo, 1968, I, him. 93)&lt;br /&gt;Al-Asy’ari dalam Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilafal-Musalliyyin, Cai&amp;shy;ro, 1950, I, hIm. 320, apabila membicarakan tentang pendapat-pendapatnya alto akidah-akidahnya, dia menyebutkan “ini adalah sebahagian daripada pendapat (Qaul) Ashab al-Hadith dan Ahl al-Sunnah.” Sementara di dalam al-lbanah an Usul al-Diyanah, Cairo, 1385 H, him. 8, dia menyebutkan “ini adaIah pendapat (Qau[) Ahl al-Haq dan al-Sunnah.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;Di dalam kedua-dua kenyataan tersebut, dia tidak menyebut perkataan aI-Jama‘ah. Kemungkinan aI-Baghdadi (w.429H) adalah orang pertama di kalangan al-Asya’irah yang mengguna perkataan al-Jama’ah selepas per&amp;shy;kataan Ahlu s-Sunnah (Ai-Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq, Beirut, 1973, hIm. 304), kemudian diikuti oleh Al-Syahrastani (Al-Milal Wa n-Nihal, I, him. Ii). Al-Jama’ah yang hakiki, menurut Imam Ali A.S ialah bersama Ahli kebenaran sekalipun mereka itu sedikit. Al-Furqah (perpecahan) ialah mengikut AhI al-Batil sekaiipun mereka itu ramai (Qadhi Abd al-Jabbar, Fadhl al-I ‘tizal, Cairo, 1955, him. 185). Sementara al-Asy’ari al-Qummi (w.301H) berkata: al-Jama’ah iaiah golongan ramai, menyokong mana-mana pemerintahan tanpa mengira sama ada pemerintahan itu adil atau pun zalim. Mereka bersepakat (berjema’ah) bukan kerana keugamaan. Malah penger&amp;shy;tian al-Jama’ah yang sebenar bagi mereka adalah penpecahan (al-Furqah) kerana dendam mendendam berlaku sesama mereka terutamanya mengenai Tauhid, hukum-hukum, fatwa-fatwa dan lain-lain. Mereka bertengkar dan mengkafir sesama mereka (Kitab al-maqalat wa l-Firaq, Tehran, 1963, hlm.15)&lt;br /&gt;Oleh itu tidak hairanlah jika al-Asy’ari sendiri bertelagah dengan Ahmad bin Hanbal mengenai perbincangan di dalam ‘ilmu l-Kalam, dia menulis buku al-Istihsan bagi menentang musuhnya Ahmad b. Hanbal, walaupun pada muIanya al-Asy’ari mengakuinya sebagai imam.Begitu juga pengikut ai-Hanbali mengkafirkan pengikut aI-Asy’ari kerana menyangka bahawa dia telah membohongi Rasul Sawa .Al-Asy’ari pula mengkafirkan Mu’tazilah dengan alasan mereka membohongi Rasul Sawa di dalam pengithbatan (Sifat) ilmu, qudrat dan lain-lain (ai-Ghazali, Fisal al-Tafriqah baina- I-Islam wa Zandaqah, Cairo, 1970, hIm. 126). A1-Asy’ari pula mengkafirkan Murji’ah (al-Maqalat, I, him. 202). Tindakan al-Asy’ari melahirkan perasaan tidak puas hati di kaiangan pengikut-pengikut Abu Hanifah. Lantaran itu mereka kemudian mengatakan Abu Hanifah seorang Murji’ah tetapi ianya adalah Murji’ah Ahlu s-Sunnah. Justeru itu tidak hairaniah jika al-Zamakhsyari (w.537H) memandang begitu negatif terhadap Ahlu s-Sunnah wa I-Jama’ah, malah dia menanamkan mereka al-Mujbirah (al-Kasysvaf, Cairo, 1 307H. I, him. 421). OIeh itu al-Jama’ah menurut pengertian yang kedua adalah simbol Perpaduan lahiriyah sesama mereka di bawah satu pemerintahan tanpa kaitan dengan keugamaan (Perpaduan Politik). Pada hakikatnya ia adalah perpecahan dan perselisihan dari segi hukum, fatwa dan lain-lain.&lt;br /&gt;Walau bagaimanapun di sini dipenturunkan sebahagian daripada akidah al-Asy’ari dan ai-Asya’irah atau akidah-akidah Ahlu s-Sunnah wa l- Jama’ah yang bertentangan dengan al-Qur’an sepenti berikut:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;1. Ja’fari:Allah tidak menghendaki orang-orang kafir menjadi kafir.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Allah (swt) menghendaki orang-orang kafir menjadi kafir dan mengunci hati mereka(al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 10; al-Asy’ari, al-Maqalat, hlm. 321).&lt;br /&gt;Lantaran itu pendapat ini adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Muddathir (74): 43-46, terjemahannya,”Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab:”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sembahyang, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan.” Sekiranya Allah telah menghendaki mereka menjadi kafir - memasuki neraka, kenapa Dia pula bertanya,”Apakah yang memasukkan kamu ke neraka Saqar?” Dan orang-orang kafir pula akan menjawab: Kami memasuki neraka Saqar kerana kamu (Tuhan) telah menghendaki kami menjadi kafir? Dan Allah (swt) tidak bertanya di dalam firman-Nya dalam Surah al-Baqarah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;(2):28, terjemahannya,”Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaku)?.” Justeru itu jikalau apa yang dikatakan oleh al-Asy’ari itu betul, nescaya Tuhan tidak akan bertanya lagi kepada mereka kerana mereka telah dijadikan kafir oleh-Nya. Sedangkan Dia juga berfirman: Surah al-Zumar (39), terjemahannya,”Dan Dia tidak meredhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;2. Ja’fari: Allah (swt) tidak akan menyiksa seseorang hamba kerana perbuatanNya padanya dan tidak akan mencelainya.&lt;br /&gt;Al-Asyar’irah: Allah (swt) akan menyiksa seorang hamba di atas perbuatanNya, malah Dia menjadikan padanya kekafiran, kemudian menyiksanya (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).&lt;br /&gt;Oleh itu pendapat al-Asya’irah adalah bertentangan dengan firman Allah SWT dalam Surah al-An’am (6):164, terjemahannya,”Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” Dan firman-Nya dalam Surah al-Fussilat (41):46, terjemahannya,”Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimi hamba-hamba-Nya.”Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawa Allah SWT tidak akan menyiksa seseorang kerana perbuatan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;3. Ja’fari: Taklif adalah mendahului perbuatan.&lt;br /&gt;Al-Asya’irah: Taklif semasa melakukan perbuatan dan bukan sebelumnya (al-Milal Wa n-Nihal, I, hlm. 96).&lt;br /&gt;Ini bererti seorang itu tidak menjadi penderhaka (’asi) kerana penderhakaan adalah menyalahi perintah. Dan jikalau penderhakaan tidak boleh berlaku melainkan semasa melakukan sesuatu, oleh itu masa penderhakaan ialah masa tidak melakukan sesuatu. Justeru itu ia (seseorang) tidak ditaklifkan (dibebankan) pada masa itu. Jika tidak, taklif mestilah mendahului perbuatan dan ini adalah bertentangan dengan mazhab mereka. Walau bagaimanapun al-’Isyan (penderhakaan) telah berlaku menurut al-Qur’an, firmanNya dalam Surah Taha (20):93, terjemahannya,”Maka apakah kamu (sengaja) menderhakai perintahku?,” firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18):69, terjemahannya,”Dan aku tidak akan menderhaka (menentang)mu dalam sesuatu urusan,” dan firman-Nya dalam Surah Yunus (10):91, terjemahannya,”Apakah sekarang (baru kamu percaya) pada hal sesungguhnya kamu telah derhaka sejak dahulu.” Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawa taklif adalah mendahului perbuatan. Justeru itu pendapat al-Asya’irah adalah bertentangan dengan nas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;4. Ja’fari: Allah tidak menjadikan kejahatan hamba-hamba-Nya tetapi mereka sendiri yang melakukannya.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Kejahatan hamba-hamba-Nya (Sayi’at al-’Ibad) dijadikan oleh Allah SWT, dan mereka tidak ada pilihan (al-Maqalat, I, hlm. 32; al-Ibanah, hlm. 10).&lt;br /&gt;Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Allah dalam Surah al-Fussilat (41):46, terjemahannya,”Barang siapa yang mengerjakan amal soleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimi hamba-hamba(Nya).” Ayat tersebut menerangkan bahawa kejahatan tidak dijadikan oleh Tuhan malah manusia yang melakukannya di atas pilihan mereka sendiri. Justeru itu pendapat al-Asy’ari tersebut menyalahi nas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;5. Ja’fari: Qudrat (kuasa) mendahului perbuatan.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari dan al-Asya’irah: Qudrat tidak mendahului perbuatan malah ia bersama perbuatan (al-Ibanah, hlm. 10; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).&lt;br /&gt;Ini bererti taklif di luar kemampuan, kerana orang kafir dibebankan (ditaklifkan) di luar kemampuannya dengan keimanan. Dan sekiranya ia mampu beriman semasa kafirnya, ini adalah bertentangan dengan mazhab mereka iaitu Qudrat bersama perbuatan, dan tidak mendahului perbuatan sebaliknya jika ia tidak mampu beriman, bererti taklif di luar kemampuan. Sedangkan Allah (swt) tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Justeru itu Qudrat semasa melakukan sesuatu adalah bertentangan dengan akal dan nas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;6. Ja’fari: Allah SWT melakukan sesuatu kerana tujuan tertentu (gharad) menurut hikmah dan kemuslihatan orang-orang yang ditaklifkan.&lt;br /&gt;Al-Asya’irah: Tidak harus bagi Allah (swt) melakukan sesuatu kerana tujuan dan kemuslihatan tertentu, kembali kepada hamba-hamba-Nya (Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Cairo, 1962, XVII, hlm. 11).&lt;br /&gt;Ini memberi implikasi bahawa terdapat perbuatanNya yang sia-sia. Lantaran itu pendapat al-Asya’irah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Anbiya’ (21):16, terjemahannya,”Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” Dan firmanNya dalam Surah Ali Imran (3):191,terjemahan,”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.” Oleh itu pendapat al-Asya’irah tersebut adalah menyalahi nas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;7. Ja’fari: Allah (swt) tidak membebankan (taklif) seseorang apa-apa yang ia tidak mampu, kerana membebankan seorang apa yang ia tidak mampu adalah terkeluar daripada Hikmah (kebijaksanaan) Allah (swt). Oleh itu adalah tidak harus bagiNya membebankan seorang yang lumpuh terbang ke udara, menghimpunkan dua perkara yang berlawanan supaya berhimpun, mengembalikan hari kelmarin, menurunkan bulan dan matahari dan lain-lain.&lt;br /&gt;Al-Asya’irah: Allah (swt) membebankan seseorang apa yang ia tidak mampu (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96). Justeru itu pendapat al-Asya’irah adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Baqarah (2):286, terjemahannya,”Sesungguhnya Allah tidak membebankan seseorang melainkan apa yang ia mampu,” dan iannya juga bertentangan dengan firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18):49, terjemahannya,”Tuhan kamu tidak akan menzalimi seorang pun daripada kamu.”Justeru itu pendapat al-Asya’irah adalah bertentangan dengan nas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;8. Ja’fari: Nabi (Saw.) menghendaki apa yang dikehendaki oleh Allah (swt). Dia membenci apa yang dibencikan oleh Allah (swt) dan ia tidak menyalahi-Nya di dalam masalah Iradah dan Karahah (kebencian).&lt;br /&gt;Al-Asya’irah: Nabi (Saw.) menghendaki apa yang dibencikan oleh Allah (swt). Dan ia membenci apa yang dikehendaki oleh Allah (swt). Kerana Allah (swt) menghendaki kekafiran daripada orang kafir, kemaksiatan daripada orang yang melakukan maksiat, kejahatan daripada penjahat, kefasikan daripada orang yang fasik (al-Ibanah, hlm. 10; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96). Sedangkan Nabi (Saw.) menghendaki ketaatan daripada mereka. Justeru itu al-Asya’irah adalah diantara apa yang dikehendaki oleh Allah (swt) dan apa yang dikehendaki oleh Nabi (Saw.). Oleh itu Allah (swt) membenci ketaatan daripada orang fasik, iman daripada orang kafir, tetapi Nabi (Saw.) sebaliknya menghendaki kedua-duanya.&lt;br /&gt;Al-Asya’irah juga menyalahi di antara apa yang dibencikan oleh Allah (swt) dan apa yang dibencikan oleh Nabi SAWA. Lantaran itu mengikut al-Asya’irah, Allah (swt) tidak menghendaki taat daripada orang yang melakukan maksiat, sebagaimana dikehendaki oleh Nabi (Saw.). Oleh itu pendapat al-Asya’irah adalah menyalahi firman Allah (swt) dalam Surah al-Isra’(17):38, terjemahannya,”Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu,” dan firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39):7, terjemahannya,”dan Dia tidak meredhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;9. Ja’fari: Imamah dan Khilafah adalah sebahagian daripada rukun Islam, dan ianya berlaku melalui nas.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Ianya bukanlah sebahagian daripada agama (al-Din). Dan ianya berlaku melalui al-ittifaq (persetujuan) atau al-ikhtiyar (pemilihan) (al-Milal Wa n-Nihal, I, hlm. 103). Oleh itu persoalannya siapakah yang lebih berhak Khalifah tidaklah penting. Tetapi apa yang lebih penting baginya ialah siapakah yang telah memegang jawatan khalifah dengan cara tersebut. Dan ianya tidak ada kaitan dengan nas. Justeru itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an yang tidak memisahkan (Imamah) politik dengan agama, firman-Nya dalam Surah al-Baqarah(2):124, terjemahannya,”Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata,”Saya memohon juga dari keturunanku.”Allah berfirman:”JanjiKu ini tidak meliputi orang yang zalim.” Dan firman-Nya dalam Surah al-Nisa’(4):59, terjemahannya,”Hai orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr daripada kamu,” kedua-dua ayat tersebut menunjukkan bahawa politik (Imamah) tidak terpisah daripada agama, kerana Dia mewajibkan ketaatan kepada Uli l-Amr sebagaimana Dia mewajibkannya kepada rasul-Nya ke atas umatnya. Justeru itu pendapat al-Asy’ari yang memisahkan politik (Imamah) dan agama adalah bertentangan dengan nas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;10. Ja’fari: Tidak mengakui kepimpinan orang yang tidak ada istiqamah dengan berpandukan al-Qur’an.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Mengakui kepimpinan mereka sekalipun tidak ada istiqamah (zalim) dan sekali-kali tidak boleh menentang mereka secara kekerasan, malah memadailah dengan berdoa untuk kebaikan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, I, hlm. 324). Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Tuhan Surah Hud (11): 113, terjemahan,”Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim maka kamu akan disentuh api neraka.” Dan firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4):59, terjemahannya,”Hai orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr daripada kamu.” Uli l-Amr yang wajib ditaati selepas rasul-Nya ialah orang yang ada istiqamah, bukannya pelaku kezaliman. Lantaran itu tidak hairanlah jika pendapat al-Asy’ari diterima oleh pemerintah dan dijadikan akidah negara sepanjang abad.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;11. Ja’fari: Penentangan kepada segala bentuk kezaliman sekalipun melibatkan peperangan adalah berterusan dengan apa cara sekalipun kerana ianya tuntutan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Peperangan (penentangan) di dalam keadaan fitnah hendaklah dihentikan (Tark al-Qital Fi l-Fitnah), (al-Ibanah, hlm. 12). Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Tuhan Surah al-Baqarah (2): 193, terjemahannya,”Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi….”Dan firmanNya Surah al-Hujurat (49): 9, terjemahannya,”Perangilah golongannya yang melakukan kezaliman itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” Justeru itu pendapat beliau itu adalah menyalahi nas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;12. Ja’fari: Tidak sah sembahyang di belakang Fajir (orang yang derhaka kepada Allah).&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Sah sembahyang di belakang fajir. Beliau berpegang kepada perbuatan Abdullah bin Umar yang telah mengerjakan sembahyang di belakang al-Hajjaj(al-Maqalat, I, hlm. 324; al-Ibanah, hlm.12). Bagi al-Asy’ari al-Hajjaj adalah seorang fajir dan Abdullah bin Umar adalah seorang birr (yang baik). Walau bagaimanapun apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar tidak boleh dijadikan dalil atau bukti sahnya sembahyang di belakang fajir. Kerana ianya bertentangan dengan firman-Nya Surah al-Infitar (82): 14, terjemahannya,”Sesungguhnya Fujjar (orang-orang yang derhaka) benar-benar berada di dalam neraka,” dan firman-Nya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya,”Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim (fajr), maka kamu akan disentuh api neraka.” Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah menyalahi nas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;13. Ja’fari: Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq berdasarkan nas. Oleh itu mereka mestilah dinilai dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an secara keseluruhan. Segala pujian atau celaan Tuhan kepada mereka adalah daripada Sifat fi’l (sementara), bukan daripada Sifat Dhat (kekal). Lantaran itu ianya tergantung di atas kelakuan mereka sama ada menyalahi nas atau pun tidak.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy’ari memberikan implikasi:&lt;br /&gt;a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbezaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang menyalahi nas.b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur’an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang mencela perbuatan mereka, kerana mereka menyalahi nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma’at (62): 11).c) Mengutamakan pendapat sahabat daripada hukum Allah (swt) seperti hukum seorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, jatuh satu menurut al-Qur’an dalam Surah al-Baqarah (2): 229, terjemahannya,”Talak (yang dapat dirujuk) dua kali.” Tetapi apabila Khalifah Umar mengatakan ianya jatuh tiga (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 137), al-Asya’irah menerimanya dan dijadikannya “hukum” yang sah sekalipun ianya menyalahi nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).d) Mengutamakan Sunnah Sahabat daripada Sunnah Nabi (Saw.) seperti membuang perkataan Haiyy ‘Ala Khairil l-’Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada masa Nabi ianya sebahagian daripada azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Khairun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).e) Kehormatan Sahabat tidak boleh disentuhi oleh al-Qur’an, kerana mereka berkata: Semua sahabat adalah adil walaupun menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).f) Menilai kebenaran Islam menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) yang sebenar. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Lantaran itu mereka berpegang kepada pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya,” dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil.” Mereka juga berkata,” Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat daripada iman umat ini.” Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat daripada iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata,” Nabi (Saw.) tidak segan silu kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman.”&lt;br /&gt;Persoalannya, kenapa Nabi (Saw.) tidask malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi (Saw.) tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi (Saw.) dan ianya menyalahi nas dan hakikat sebenar, kerana kebenaran adalah berada di lidah Nabi (Saw.) dan al-Qur’an.g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikannya “aqidah” sedangkan Sahabat sendiri bergaduh, caci-mencaci dan berperang sesama mereka.h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309), sekalipun ianya bertentangan dengan nas, kerana “bersetuju” dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:”Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau menyokong semua Sahabat selain daripada Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid, hlm.304). Lantaran itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan “persetujuan” dengan Sahabat sekalipun Sahabat menyalahi nas.i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA dengan berbagai cara sekalipun. Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenar sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:” Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun ianya telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu.”&lt;br /&gt;Mereka berkata lagi:”Kajian tersebut adalah merbahaya dan ianya merupakan barah kepada “aqidah” mereka, jangan dibiarkan ianya menular di dalam masyarakat.” Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang menyalahi al-Qur’an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng atau 1001 malam. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka wal hal ianya bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman! Akhir sekali mereka menyuruh “pihak berkuasa” supaya mengambil tindakan, kerana khuatir mereka tidak begitu mampu lagi untuk mempertahankan “aqidah” mereka yang bertentangan dengan al-Qur’an.&lt;br /&gt;Oleh itu pihak berkuasa terus menerima cadangan tersebut, dan diletakkan pengkaji tersebut di kandang orang salah. Sebenarnya mereka tidak mahu tunduk kepada kebenaran al-Qur’an dan keadaan sebenar “umat manusia.” Mereka menganggapnya sebagai barah pada hakikatnya itulah penawar. Tetapi ianya tidak dapat diketahui dan dinilai oleh orang yang tidak mempunyai fikiran yang luas dan mendalam. Wahai Tuhanku! Di manakah keadilan di dunia ini!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;14. Ja’fari: Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam semua perkara.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Berkecuali, tidak memihak kepada mana-mana sahabat sekiranya berlaku pertelingkahan atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324). Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, terjemahannya,”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah,” dan ianya juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya,” Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka.” Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah menyalahi nas kerana tidak ada pengecualian di dalam menyokong kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;15. Ja’fari: Allah (swt) tidak dapat dilihat di dunia dan di akhirat kerana Dia bukan jism dan setiap yang bukan jism tidak dapat dilihat.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Allah SWT dapat dilihat di akhirat firmanNya dalam Surah al-Qiyamah (75): 22-23, terjemahannya,” Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri kepada Tuhannyalah ia (Wajah-wajah) melihat.” Al-Asy’ari mengatakan Allah dapat dilihat di akhirat seperti dilihatnya bulan penuh purnama (al-Ibanah, hlm. 10; al-Maqalat, I, hlm. 321).&lt;br /&gt;Sebenarnya apa yang dipegang oleh al-Asy’ari itu adalah ayat Mutasyabihah. Oleh itu ianya hendaklah dirujuk kepada ayat Muhkamah iaitu firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 103, terjemahannya,”Dia tidak dapat dicapai penglihatan, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Dan juga ianya hendakklah dirujuk kepada firman-Nya dalam Surah al-A’raf (7): 143, terjemahannya,”Dan tatkala Musa datang pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa,”Ya Tuhanku, nampaklah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Tuhan berfirman,”Kamu sekali-kali tidak dapat melihatku (Lan tara-ni), tetapi lihatlah ke bukit, maka jika ia tetapi di tempatnya nescaya kamu dapat melihatku.” Tatkala Tuhannya nampak bagi bukit itu, maka bukit itu hancur lebur dan Musa pun jatuh pengsan.”&lt;br /&gt;Ayat tersebut menunjukkan:a) Allah tidak dapat dilihat kerana Tuhan berfirman,”Sekal-kali (Lan tara-ni) kamu tidak akan melihatKu.”b) Allah mengaitkan “penglihatan” kepada perkara yang mustahil iaitu sekiranya bukit itu tetap. Tetapi terbukti ianya hancur lebur.c) Permintaan Musa untuk melihat Tuhan adalah di atas desakan kaumnya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4): 153,”Ahli Kitab meminta kepadamu agar menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” Maka mereka disambar petir kerana kezaliman. Lantaran itu Allah tidak dapat dilihat di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;16. Ja’fari: Amalan baik (ta’at) seorang mukmin berhak diberi pahala jikalau tidak, ianya menjadi sia-sia dan kezaliman dikaitkan kepada Allah (swt) .&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Amalan baik yang dilakukan oleh seorang mukmin belum tentu mendapat pahala daripada Allah (swt) .&lt;br /&gt;Sebaliknya ia boleh dimasukkan ke neraka tanpa mengira kebaikannya. Dan Tuhan pula tidak boleh dikatakan zalim jika Dia berbuat demikian (al-Maqalat, I, hlm. 322; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 101). Ini bererti orang yang paling tinggi takwanya seperti Nabi (Saw.) belum pasti ianya ke syurga atau orang yang paling jahat seperti Fir’aun belum tentu dia dimasukkan ke neraka. Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firmanNya dalam Surah al-Qasas (28): 84, terjemahanya,”Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya.” Dan firmanNya dalam Surah al-An’am (6): 160, terjemahannya,”Barang siapa membawa amal yang baik baginya (pahala) sepuluh kali ganda, dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka Dia tidak memberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya.”&lt;br /&gt;Oleh itu pendapat al-Asy’ari tidak memberangsangkan seseorang mukmin supaya melakukan amalan yang lebih baik kerana belum pasti, dia akan mendapat pahala. Sebaliknya ia merangsangkan orang fasiq untuk meningkatkan kefasikannya kerana belum pasti, dia akan dimasukkan ke neraka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#003300;"&gt;17. Ja’fari: Perbuatan manusia bukan al-Jabr (terpaksa menurut apa yang telah “ditetapkan” oleh Allah (swt) dan bukan al-Tafwid (diberi kebebasan mutlak) tetapi ianya di antara kedua-duanya.&lt;br /&gt;Al-Asy’ari: Perbuatan manusia dijadikan oleh Allah (swt) (makhluqah) (al-Ibanah, hlm. 9; al-Maqalat, I, hlm. 321)&lt;br /&gt;Al-Asy’ari berpegang kepada Surah al-Saffat (37): 96, terjemahannya,”Dan Allah telah menjadikan kamu dan apa yang kamu buat.” Sebenarnya ayat tersebut adalah menunjukkan keingkaran Allah (swt) terhadap perbuatan penyembah-penyembah berhala kerana mereka mengukir berhala-berhala mereka dari batu dan kayu kemudian menyembahnya pula. Sedangkan kayu-kayu dan batu-batu tersebut adalah kejadian Allah (swt) .&lt;br /&gt;Dan jikalaulah ianya sebagaimana yang dikatakan oleh al-Asy’ari ini bererti Tuhan tidak akan menyiksa hamba-hamba-Nya kerana perbuatanNya. Jika tidak, Dia tidak menepati janji-Nya dan Dia dikatakan zalim. Justeru itu ianya bertentangan dengan firman-Nya dalam Surah Taha (20): 15, terjemahannya,”Tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.”Dan firmanNya dalam Surah al-An’am (6): 160, terjemahannya,”Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali ganda amalannya dan barang siapa yang membawa amal yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya. Sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” Oleh itu jika seorang itu dipaksa (majbur) di dalam perbuatannya, nescaya ia mempunyai hujah yang kuat di hadapan Allah (swt) apabila Dia mahu menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya yang telah dikehendaki oleh Allah SWT, kerana dia tidak diberi pilihan untuk tidak melakukannya.&lt;br /&gt;Kerumitan yang dihadapi oleh al-Asy’ari mengenai “perbuatan manusia adalah perbuatan Allah (swt)” agak ketara dan beliau cuba mencipta teori al-kasb atau al-iktisab (usaha), tetapi ia bukan sahaja tidak dapat menyelesaikan masalah, malah ianya bertentangan dengan formulanya sendiri; kekafiran dan kejahatan dikehendaki Allah. Beliau memberi definisi al-iktisab sebagai perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan kuasa baru (qudrah muhdathah) selepas Allah SWT menjadikan perbuatan tersebut (al-Maqalat, hlm. 199; al-Asy’ari, al-Luma’, Cairo, 1955, hlm. 97). Atau Allah menjadikan perbuatan dan seseorang itu (al-Abd) berusaha (muktasib) untuknya.” (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).&lt;br /&gt;Persoalannya bagaimana seorang itu dapat melakukan al-kasb atau al-iktisab (usaha) menurut pilihannya sedangkan usahanya (al-kasb) itu sendiri adalah penerusan daripada perbuatan Allah (swt) yang telah menetapkan kekafiran, kefasikan dan kejahatan hamba-hambaNya? Oleh itu, teori al-kasb atau al-iktisab yang diciptakan oleh al-Asy’ari kemudian diikuti pula oleh al-Asya’irah (al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, hlm. 328), nampaknya tidak dapat melepaskan mereka daripada fahaman Jabariyyah (al-Allamah, Ja’far Subhani, Ma’alim al-Tauhid, Tehran, 1980, hlm. 308) kerana mereka percaya bahawa tidak ada mu’aththir (pelaku) yang sebenar selain daripada Allah SWT.&lt;br /&gt;Justeru itu perbuatan manusia bukanlah al-Jabr (terpaksa menurut apa yang telah ditetapkan Allah (swt) , dan bukan juga al-Tafwid (diberikan kebebasan mutlak), tetapi ianya di antara kedua-duanya. Lantaran itu Imam Ridha AS berkata:”Sesiapa yang menyangka bahawa Allah membuat perbuatan kita, kemudian Dia menyiksa kita kerana perbuatanNya, maka dia telah berkata (Fahaman) Jabariyyah dan sesiapa yang berkata bahawa Allah telah menyerahkan perbuatan dan rezeki kepada manusia, maka dia berkata dengan (Fahaman) al-Tafwid (Mu’tazilah) (Akhbar ‘Uyun al-Ridha, Tehran, 1980, hlm. 325). Oleh itu manusia mestilah melakukan amalan yang baik untuk mendapat ganjaran sebagaimana dijanjikan oleh-Nya. Sebaliknya manusia mestilah mejauhkan amalan maksiat kerana dengannya ia disiksa. Imam Musa al-Kazim AS berkata:”Maksiat sama ada datang daripada Allah, justeru itu hamba tiada kaitan dengannya, dan Dia tidak akan menyiksa hambaNya. Atau ianya daripada hambaNya. Atau ianya bersyarikat dengan Allah (swt) . Oleh itu sekutu yang lebih kuat (Allah (swt) ) tidak akan menyiksa sekutu yang lebih lemah (manusia) dengan dosa yang mereka berdua lakukan bersama (Yusuf al-Najafi, al-Aqa’id al-Imamiah, Najaf, 1982, hlm. 64).&lt;br /&gt;Di sini diperturunkan sebahagian daripada ayat-ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan aqidah-aqidah al-Asy’ari dan al-Asya’irah atau aqidah-aqidah Ahlul Sunnah Wa l-Jama’ah secara langsung seperti berikut:&lt;br /&gt;Pertama: Ayat-ayat yang menunjukkan celaan kepada hamba-hamba-Nya kerana kekafiran dan kemaksiatan&lt;br /&gt;1.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 20, terjemahannya,”Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaKu?)”Keingkaran dan celaan kepada orang yang lemah atau tidak mampu beriman kepada-Nya adalah mustahil.&lt;br /&gt;2.Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18); 55, terjemahannya,”Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika penunjuk telah datang kepada mereka.” Bagaimana Dia mencela orang kafir jika mereka tidak mampu beriman.&lt;br /&gt;3.Firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4): 39, terjemahannya,”Apakah kemudharatannya bagi mereka kalau mereka beriman kepada Allah.”&lt;br /&gt;4.Firman-Nya dalam Surah Sad (38): 75, terjemahannya,”Apakah yang menghalang kamu sujud.”&lt;br /&gt;5.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 92, terjemahannya,”Apa yang menghalang kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat.”&lt;br /&gt;6.Firman-Nya dalam Surah al-Muddathir (74): 49, terjemahannya,”Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?”&lt;br /&gt;7.Firman-Nya dalam Surah al-Insyiqaq (84): 20, terjemahannya,”Mengapa mereka tidak mahu beriman.” Firman-Nya dalam Surah al-Taubah (9): 43, terjemahannya,”Semoga Allah memaafkan kamu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang).”&lt;br /&gt;8.Firman-Nya dalam Surah al-Tahrim (66); 1, terjemahannya,”Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu.” Bagaimana harus Dia berkata: Mengapa kamu lakukan? Sedangkan dia tidak melakukannya.&lt;br /&gt;9.Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3): 71, terjemahannya,”Mengapa kamu mencampuradukan yang haq dengan yang batil.”&lt;br /&gt;10. Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3): 99, terjemahannya,”Mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah…?”&lt;br /&gt;Lantaran itu tidak hairanlah jika al-Sahib bin ‘Abbad (w. 995M), Perdana Menteri di bawah Muayyid al-Daulah berkata: Bagaimana Dia menyuruh seorang supaya beriman tetapi Dia tidak menghendakinya? Dia melarang kemungkaran dan Dia menghendakinya? Dia menyiksa orang yang melakukan kebatilan sedangkan Dia telah menetapkannya? Bagaimana Dia memalingkannya daripada keimanan? Sedangkan Dia berfirman dalam Surah Yunus (10): 32, terjemahannya,”Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Dia menjadikan pada mereka kekafiran kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Baqarah (2): 28, terjemahannya,”Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaku?).” Dia mencampuradukkan kebatilan pada mereka, kemudian Dia berfirman dalam Surah Ali Imran (3): 71, terjemahannya,”Mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil?”&lt;br /&gt;Dia telah menghalangi mereka dari jalan benar, kemudian Dia berfirman dalam Surah Ali Imran (3): 99, terjemahannya,”Mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah?”&lt;br /&gt;Dia telah mendindingkan mereka daripada keimanan kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Nisa’(4): 39, terjemahannya,”Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah?”&lt;br /&gt;Dia menghilangkan kewarasan mereka, kemudian berfirman dalam Surah al-Takwir (81): 26, terjemahannya,”Maka kemanakah kamu akan pergi?”&lt;br /&gt;Dia menyesatkan mereka daripada ugama sehingga mereka berpaling kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Muddathir (74): 49, terjemahannya,”Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?”&lt;br /&gt;Kedua: Ayat-ayat yang menunjukkan pilihan hamba-hamba pada perbuatan-perbuatan mereka dengan kehendak mereka sendiri&lt;br /&gt;1.Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18): 29, terjemahannya,”Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.”&lt;br /&gt;2.Firman-Nya dalam Surah al-Fussilat (41): 40, terjemahannya,”Perbuatan apa yang kamu kehendaki.”&lt;br /&gt;3.Firman-Nya dalam al-Taubah (9): 105, terjemahannya,”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.”&lt;br /&gt;4.Firman-Nya dalam al-Muddathir (74): 37, terjemahannya,”Bagi siapa yang di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur.”&lt;br /&gt;5. Firman-Nya dalam Abasa (80): 12, terjemahannya,”Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.”&lt;br /&gt;6.Firman-Nya dalam al-Muzzammil (73): 19, terjemahannya,”Maka barangsiapa yang menghendaki nescaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya.”&lt;br /&gt;7.Firman-Nya dalam Surah al-Naba’ (78): 39, terjemahannya,”Maka barangsiapa yang menghendaki, nescaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.”&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Allah SWT mengingkari orang yang menafikan kemahuan (al-masyi’ah) daripada diri mereka dan mengaitkannya kepada Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;8.Firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 148, terjemahannya,”Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak mempersekutukannya.”&lt;br /&gt;9.Firman-Nya dalam dalam Surah al-Zukhruf (43): 20, terjemahannya,”Dan mereka berkata: Jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyalah mereka (mala’ikat).”&lt;br /&gt;Ketiga: Ayat-ayat yang menyuruh hamba-hamba yang melakukan amalan-amalan dan bersegera melakukannya&lt;br /&gt;1.FirmanNya dalam dalam Surah Ali Imran (3): 133, terjemahannya,”Dan bersegeralah kamu kepada keampunan dari Tuhanmu.”&lt;br /&gt;2.Firman-Nya dalam Surah al-Ahqaf (48): 31, terjemahannya,”Sahutilah dan berimanlah kepadaNya.”&lt;br /&gt;3.Firman-Nya dalam Surah al-Anfal (8): 24, terjemahannya,”Sahutilah seruan Allah dan Rasul.”&lt;br /&gt;4.Firman-Nya dalam Surah al-Hajj (22): 77, terjemahannya,”Hai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah kamu.”&lt;br /&gt;5.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 21, terjemahannya,”Sembahlah Tuhanmu.”&lt;br /&gt;6.Firman-Nya dalam Surah al-Isra’ (17): 107, terjemahannya,”Berimanlah kamu kepada-Nya.”&lt;br /&gt;7.Firman-Nya dalam al-Zumar (39): 55, terjemahannya,”Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu.”&lt;br /&gt;8.Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 54, terjemahannya,”Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu.”&lt;br /&gt;Bagaimana Dia menyuruh melakukan ketaatan dan bersegera kepadanya sedangkan orang yang disuruh itu ditegah, tidak mampu untuk melakukannya?&lt;br /&gt;Keempat: Ayat-ayat yang memberangsangkan supaya memohon pertolongan denganNya&lt;br /&gt;1.Firman-Nya dalam Surah al-Fatihah (1): 5, terjemahannya,”Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”&lt;br /&gt;2.Firman-Nya dalam Surah al-Nahl (16): 98, terjemahannya,”Mintalah kamu perlindungan kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk.”&lt;br /&gt;3.Firman-Nya dalam Surah al-A’raf (7): 128, terjemahannya,”Mohonlah pertolongan kepada Allah.”&lt;br /&gt;Sekiranya Dia telah menjadikan kekufuran dan kemaksiatan sebagaimana didakwa oleh al-Asya’irah atau Ahlul Sunnah wa l-Jama’ah, bagaimana pertolongan dan perlindungan diminta daripadaNya?&lt;br /&gt;Kelima: Ayat-ayat yang menunjukkan sandaran perbuatan kepada hamba&lt;br /&gt;1.Firman-Nya dalam Surah Maryam (19): 37, terjemahannya,”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir.”&lt;br /&gt;2.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 79, terjemahannya,”Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka.”&lt;br /&gt;3. Firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 148, terjemahannya,”Kami tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka.”&lt;br /&gt;4. Firman-Nya dalam Surah al-Anfal (8): 53, terjemahannya,”Yang demikian itu adalah kerana sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkannya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”&lt;br /&gt;5.Firman-Nya dalam Surah Yusuf (12): 18, terjemahannya,”Sebenarnya diri kamulah yang memandang baik perbuatan (buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).”&lt;br /&gt;6.Firman-Nya dalam Surah al-Ma’idah (5): 30, terjemahannya,”Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah.”&lt;br /&gt;7.Firman-Nya dalam Surah al-Tur (52): 21, terjemahannya,”Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”&lt;br /&gt;8.Firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4): 123, terjemahannya,”Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, nescaya akan diberi pembalasan kejahatan itu.”&lt;br /&gt;9. Firman-Nya dalam Surah Ibrahim (14): 22, terjemahannya,”Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku.”&lt;br /&gt;10.Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18): 7, terjemahannya,”Agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”&lt;br /&gt;11.Firman-Nya dalam Surah al-Jathiah (45); 21, terjemahannya,”Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahawa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh?”&lt;br /&gt;12.Firman-Nya dalam Surah al-Sad (38): 28, terjemahannya,”Patutkah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerosakan di muka bumi? Patutkah (pula) kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat baik?”&lt;br /&gt;13.Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 31, terjemahannya,”Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka telah kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).”&lt;br /&gt;14.Firman-Nya dalam Surah Fussilat (41): 46, terjemahannya,”Barangsiapa mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;15.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 82, terjemahannya,”Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat beriman, beramal saleh kemudian tetap dijalan yang benar.”&lt;br /&gt;Bagaimana Dia menyuruh dan melarang tanpa orang melakukannya? Jikalaulah begitu keadaannya, maka ianya sepertilah menyuruh dan melarang al-Jamad (benda yang tidak bergerak)! Nabi SAWAW bersabda:”Niat seorang mukmin adalah lebih baik daripada amalannya (al-Muttaqi al-Hindi, Kunz al-Ummal, III, hlm. 242).&lt;br /&gt;Keenam: Ayat-ayat yang menunjukkan pengakuan para nabi ke atas amalan-amalan mereka:&lt;br /&gt;1. Firman-Nya (Surah al-A’raf 7:23) terjemahannya:’Ya Tuhan kami,kami telah men ganaya dir kami sendiri’.2. Firman-Nya(Surahal-Anbiya’21:87) terjemahannya:’Maha SuciEngkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang- orang zalim’.&lt;br /&gt;3.Firman-Nya (Surah al-Qasas 28:16) terjemahannya:’Ya Tuhan sesungguhnakutelah menganiaya diriku sendiri’.&lt;br /&gt;4. Firman-Nya (Surah Yusuf 12:18) terjemahannya:’Sebenarnya&lt;br /&gt;dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk)&lt;br /&gt;itu”&lt;br /&gt;5.Firman-Nya (Surah Yusuf 12:100) terjemahannya:’Setelah syaitan merosakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku’.&lt;br /&gt;6.Firman-Nya (Surah Hud 11:47) terjemahannya: ‘Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dan memohon kepada Engkau seperti yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya’.&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas menunjukkan pengakuan para nabi A.S.di atas per&amp;shy;buatan-perbuatan mereka dan merekalah yang melakukannya, tidak Se&amp;shy;bagaimana pendapat al-Asya’irah atau AhIu s-Sunnah Wa I-Jama’ah yang menyatakan Allah telah menjadi perbuatan-perbuatan mereka sehingga mereka tidak mempunyai pilihan. Pengakuan kesalahan tersebut adalah dari bab “Hasanat al-A brar Sayyi ‘at al-Mu qarrabin&lt;br /&gt;Ketujuh: Ayat-ayat yang menunjukkan pengakuan orang-orang kafir dan penderhaka di atas perbuatan mereka&lt;br /&gt;1.Firman-Nya dalam Surah Saba’ (34): 31-32, terjemahannya,”kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhan mereka….”Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.”&lt;br /&gt;2.Firman-Nya dalam Surah al-Muddathir (74): 43- 46, terjemahannya,”Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab:”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sembahyang.”&lt;br /&gt;3.Firman-Nya dalam Surah al-Mulk (67): 8-9, terjemahannya,”Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka:”Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab:”benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kamu mendustakannya.”&lt;br /&gt;4.Firman-Nya dalam Surah al-A’raf (7): 37, terjemahannya,”Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Orang-orang itu akan memperolehi bahagian mereka di dalam al-kitab.”&lt;br /&gt;5.Firman-Nya dalam Surah al-A’raf (7): 39, terjemahannya,”Maka rasakanlah siksaan kerana perbuatan yang telah kamu lakukan.”&lt;br /&gt;Kelapan: Penyesalan orang-orang kafir di akhirat di atas kekufuran mereka dan menuntut supaya dikembalikan di dunia&lt;br /&gt;1.Firman-Nya dalam Surah Fatir (35): 37, terjemahannya,”Dan mereka berteriak di dalam neraka itu:”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami nescaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan.”&lt;br /&gt;2.Firman-Nya dalam Surah al-Mukminun (23): 99, terjemahannya,”Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang aku tinggalkan.”&lt;br /&gt;3.Firman-Nya dalam Surah al-Sajdah (32): 12, terjemahannya,”Dan jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata):”Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”&lt;br /&gt;4.Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 58, terjemahannya,”Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia) nescaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik.”&lt;br /&gt;Kesembilan: Ayat-ayat yang menunjukkan perbuatan Allah SWT tidak menyerupai perbuatan makhluk, tidak seimbang tanpa perselisihan dan kezaliman&lt;br /&gt;1.Firman-Nya dalam Surah al-Mulk (67): 3, terjemahannya,”Kami sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.”&lt;br /&gt;2.Firman-Nya dalam Surah al-Sajdah (32): 7, terjemahannya,”Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya.” Oleh itu kekufuran dan kezaliman bukanlah suatu yang baik.&lt;br /&gt;3.Firman-Nya dalam Surah al-Hijr (15): 85, terjemahannya,”Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara kedua-duanya, melainkan dengan benar.” Oleh itu kekufuran bukanlah suatu kebenaran.”&lt;br /&gt;4.Firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4); 40, terjemahannya,”Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.”&lt;br /&gt;5.Firman-Nya dalam Surah Fussilat (4): 46, terjemahannya,”Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).”&lt;br /&gt;6.Firman-Nya dalam Surah Hud (11): 101, terjemahannya,”Dan Kami tidak menganiaya mereka.”&lt;br /&gt;7.Firman-Nya dalam Surah al-Isra’ (17): 7, terjemahannya,”Dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.”&lt;br /&gt;Kesepuluh: Ayat-ayat yang memuji Mukmin kerana imannya dan mencela Kafir kerana kekafirannya&lt;br /&gt;1.Firman-Nya dalam Surah al-Tur (52): 16, terjemahannya,”Kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”&lt;br /&gt;2.Firman-Nya dalam Surah al-Mu’min (40): 17, terjemahannya,”Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya.”&lt;br /&gt;3.Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 37, terjemahannya,”dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.”&lt;br /&gt;4.Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 38, terjemahannya,”Bahawa seorang yang berdosa itu tidak akan memikul dosa orang lain.”&lt;br /&gt;5.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 15, terjemahannya,”tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.”&lt;br /&gt;6.Firman-Nya dalam Surah al-Rahman (27): 60, terjemahannya,”Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”&lt;br /&gt;7.Firman-Nya dalam Surah al-Naml (27): 90, terjemahannya,”Tiada lah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.”&lt;br /&gt;8.Firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 160, terjemahannya,”Barangsiapa yang membawa amal baik maka baginya (pahala) sepuluh kali ganda.”&lt;br /&gt;9.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 124, terjemahannya,”Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanku.”&lt;br /&gt;10.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 86, terjemahannya,”Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia.”&lt;br /&gt;11.Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3):86, terjemahannya,”Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman.”&lt;br /&gt;Demikianlah dikemukankan ayat-ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan aqidah al-Asya’irah atau aqidah Ahlul Sunnah wa l-Jama’ah. Kesemua ayat-ayat di atas “adalah yang tidak datang kepadanya kebatilan baik depan mahupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji [Surah al-Fussilat (41): 42]&lt;br /&gt;Justeru apakah keuzuran untuk tidak berpandukan kepada fahaman yang selaras dengan aqidah al-Qur’an? Kenapa mereka meninggalkan ayat-ayat tersebut wal hal ianya jelas dan nyata? Atau hanya bertaqlid kepada orang-orang yang terdahulu tanpa kajian dan renungan?&lt;br /&gt;Firman Allah SWT dalam Surah al-A’raf (7): 28, terjemahannya,”Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata:”Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya, katakanlah: Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui.”&lt;br /&gt;Firman Allah SWT dalam Surah al-An’am (6): 70, terjemahannya,”Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia.”&lt;br /&gt;Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 56, terjemahannya,”Supaya jangan ada orang yang mengatakan:”Amat besar penyesalanku atau kesalahanku terhadap Allah sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).”&lt;br /&gt;Dan firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 91, terjemahannya,”Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.”&lt;br /&gt;Banyak lagi penyelewengan ajaran Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah dari segi akidah, Syari‘at Allah yang belum dikemukan.Justeru itu, jika mereka yang mengikut 100 peratus hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasulullh saw itu dikira sesat atau menyeleweng dan perlu dipuluh/dimurnikan akidah mereka, maka mereka yang mengikut sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya adalah lebih sesat atau menyeleweng lagi dan lebih perlu dipulih/dimurnikan akidah mereka oleh Imam Mahdi (a.s).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-4504100596560697665?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/4504100596560697665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=4504100596560697665' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/4504100596560697665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/4504100596560697665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2008/08/islam-yg-berwarna-warni.html' title='ISLAM YG BERWARNA WARNI'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8687324840326045020.post-1763291413500043148</id><published>2008-08-16T09:47:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T09:49:52.382-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKH'/><title type='text'>MUT`AH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Nikah Mut’ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Berhubung dengan isu hangat yaitu Nikah Mut’ah yang dikaitkan dengan zina, pendapat ini menimbulkan kemusykilan yang amat sangat. Ini karena menyamakan Mut’ah Nikah dengan zina membawa maksud seolah-olah Nabi Muhammad SAW pernah menghalalkan zina dalam keadaan-keadaan darurat seperti perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah. Pendapat ini tidak boleh diterima karena perzinaan memang telah diharamkan sejak awal Islam dan tidak ada rokhsah dalam isu zina.&lt;br /&gt;Sejarah menunjukkan bahwa Abdullah bin Abbas diriwayatkan pernah membolehan Nikah Mut’ah tetapi kemudian menarik balik fatwanya di zaman selepas zaman Nabi Muhammad SAW. &lt;br /&gt;Kalau mut’ah telah diharamkan pada zaman Nabi SAW apakah mungkin Abdullah bin Abbas membolehkannya?&lt;br /&gt;Sekiranya beliau tidak tahu [mungkinkah beliau tidak tahu?] tentang hukum haramnya mut’ah apakah mungkin beliau berani menghalalkannya pada waktu itu?&lt;br /&gt;Fatwa Abdullah bin Abbas juga menimbulkan tanda tanya karena tidak mungkin beliau berani membolehkan zina [mut'ah] dalam keadaan darurat seperti makan bangkai, darah dan daging babi kerana zina [mut'ah] tidak ada rokhsah sama sekali walaupun seseorang itu akan mati jika tidak melakukan jimak. Sebaliknya Abdullah menyandarkan pengharaman mut’ah kepada Umar al-Khattab seperti tercatat dalam tafsir al-Qurtubi meriiwayatkan Abdullah bin Abbas berkata, ” Sekiranya Umar tidak mengharamkan mut’ah nescaya tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar jahat.” (Lihat tafsiran surah al-Nisa:24)&lt;br /&gt;Begitu juga pengakuan sahabat Nabi SAW yaitu Jabir bin Abdullah dalam riwayat Sohih Muslim, ” Kami para sahabat di zaman Nabi SAW dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam korma dan tepung sebagai maharnya, kemudian Umar mengharamkannya karena Amr bin khuraits.”&lt;br /&gt;Jelaslah mut’ah telah diamalkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW selepas zaman Rasulullah SAW wafat. Oleh itu hadith-hadith yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah mengharamkan mut’ah nikah sebelum baginda wafat adalah hadith-hadith dhaif. &lt;br /&gt; Dua riwayat yang dianggap kuat oleh ulama Ahlul Sunnah yaitu riwayat yang mengatakan nikah mut’ah telah dihapuskan pada saat Perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah sebenarnya hadith-hadith yang dhaif. Riwayat yang mengaitkan pengharaman mut’ah nikah pada ketika Perang Khaibar lemah karena seperti menurut Ibn al-Qayyim ketika itu di Khaibar tidak terdapat wanita-wanita muslimah yang dapat dikawini. Wanita-wanita Yahudi (Ahlul Kitab) ketika itu belum ada izin untuk dikawini. Izin untuk mengahwini Ahlul Kitab seperti tersebut dalam Surah al-Maidah terjadi selepas Perang Khaibar. Tambahan pula kaum muslimin tidak berminat untuk mengawini wanita Yahudi ketika itu karena mereka adalah musuh mereka.&lt;br /&gt;Riwayat kedua diriwayatkan oleh Sabirah yang menjelaskan bahwa nikah mut’ah diharamkan saat dibukanya kota Mekah (Sahih Muslim bab Nikah Mut’ah) hanya diriwayatkan oleh Sabirah dan keluarganya saja tetapi kenapa para sahabat yang lain tidak meriwayatkannya seperti Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud? &lt;br /&gt;Sekiranya kita menerima pengharaman nikah mut’ah di Khaibar, ini bermakna mut’ah telah diharamkan di Khaibar dan kemudian diharuskan pada peristiwa pembukaan Mekah dan kemudian diharamkan sekali lagi. Ada pendapat mengatakan nikah mut’ah telah dihalalkan 7 kali dan diharamkan 7 kali sehingga timbul pula golongan yang berpendapat mut’ah nikah telah diharamkan secara bertahap seperti pengharaman arak dalam al-Qur’an tetapi mereka lupa bahwa tidak ada ayat Qur’an yang menyebutkan pengharaman mut’ah secara bertahap seperti itu. Ini hanyalah dugaan semata-mata.&lt;br /&gt;Yang jelas nikah mut’ah dihalalkan dalam al-Qur’an surah al-Nisa:24 dan ayat ini tidak pernah dimansuhkan sama sekali. Al-Bukhari meriwayatkan dari Imran bin Hushain:  “Setelah turunnya ayat mut’ah, tidak ada ayat lain yang menghapuskan ayat itu. Kemudian Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita untuk melakukan perkara itu dan kita melakukannya semasa beliau masih hidup. Dan pada saat beliau meninggal, kita tidak pernah mendengar adanya larangan dari beliau SAW tetapi kemudian ada seseorang yang berpendapat menurut kehendaknya sendiri.” &lt;br /&gt;Orang yang dimaksudkan ialah Umar. Walau bagaimanapun Bukhari telah memasukkan hadith ini dalam bab haji tamattu. &lt;br /&gt;Pendapat Imam Ali AS adalah jelas tentang harusnya nikah muta’ah dan pengharaman mut’ah dinisbahkan kepada Umar seperti yang diriwayatkan dalam tafsir al-Tabari: “Kalau bukan kerana Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka.”&lt;br /&gt;Sanadnya sahih. Justeru itu Abdullah bin Abbas telah memasukkan tafsiran (Ila Ajalin Mussama) selepas ayat 24 Surah al-Nisa bagi menjelaskan maksud ayat tersebut adalah ayat mut’ah (lihat juga Syed Sobiq bab nikah mut’ah).&lt;br /&gt;Pengakuan Umar yang menisbahkan pengharaman mut’ah kepada dirinya sendiri bukan kepada Nabi SAW cukup jelas bahawa nikah mut’ah halal pada zaman Nabi SAW seperti yang tercatat dalam Sunan Baihaqi,  ” Dua jenis mut’ah yang dihalalkan di zaman Nabi SAW aku haramkan sekarang dan aku akan dera siapa yang melakukan kedua jenis mut’ah tersebut. Pertama nikah mut’ah dan kedua haji tamattu”.&lt;br /&gt;Perlulah diingatkan bahwa keharusan nikah mut’ah yang diamalkan oleh Mazhab Syiah bukan bermaksud semua orang wajib melakukan nikah mut’ah seperti juga kehalalan kawin empat bukan bermaksud semua orang wajib kawin empat. Penyelewengan yang berlaku pada amalan nikah mut’ah dan kawin empat bukan disebabkan hukum Allah SWT itu lemah tetapi disebabkan oleh kejahilan seseorang itu dan kelemahan akhlaknya sebagai seorang Islam. Persoalannya jika nikah mut’ah sama dengan zina, apakah bentuk mut’ah yang diamalkan oleh para sahabat pada zaman Nabi Muhammad SAW dan zaman khalifah Abu Bakar? [catatan: Nikah muta'ah memang tidak sama dengan zina] &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8687324840326045020-1763291413500043148?l=suriailmusuatujalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/feeds/1763291413500043148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8687324840326045020&amp;postID=1763291413500043148' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/1763291413500043148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8687324840326045020/posts/default/1763291413500043148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suriailmusuatujalan.blogspot.com/2008/08/mutah.html' title='MUT`AH'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
